Dolar AS Loyo, Bitcoin Melesat ke Level Rp 215 Juta

Bisnis – Harga jual bitcoin mengalami peningkatan sebesar 7%, ke level US$ 15.000 atau sebesar Rp 215 juta dengan kurs 14.350. Harga ini merupakan level tertinggi selama hampir tiga tahun ini. Peningkatan ini disebabkan oleh meningkatnya minat mata uang digital atau cryptocurrency dan melemahnya harga dolar AS.

Di tahun 2020 harga satu bitcoin sudah mengalami peningkatan lebih dari dua kali lipat. Keuntungan dari bitcoin ini sangat dramatis dalam beberapa minggu terakhir, dimana harga bitcoin mengalami peningkatan sebesar 40% sejak awal Oktober. Jika nilai bitcoin terus mengalami peningkatan, mungkin cryptocurrency dapat menduduki puncak tertinggi.

Selain dari lemahnya dolar AS, bitcoin juga mendapatkan sentiment positif dari perusahaan pembayaran online seperti PayPal dan Square yang merangkul cryptocurrency sebagai salah satu opsi pembayaran dan investasi yang layak.

Bill Noble, Kepala Analis Teknis di firma riset Token Metrics, mengatakan bahwa ketidakpastian yang berkepanjangan mengenai hasil dari pemilihan presiden AS juga penyebab meningkatnya level bitcoin baru-baru ini. Menurutnya, para investor mungkin melarikan diri dari dolar AS dan beralih membeli bitcoin.

Indeks harga dolar AS, yang melacak greenback versus euro, yen, atau beberapa mata uang lainnya, sejauh ini mengalami penurunan sekitar 1,5% pada minggu ini.

Bitcoin dan emas mungkin menjadi pilihan tepat sebagai momentum taruhan bagi para investor yang ingin memanfaatkan kelemahan dolar AS yang berkelanjutan. Harga emas di awal tahun ini mencapai rekor tertinggi di atas US$ 2.000 per ons, dimana level ini naik sebesar 30% pada tahun 2020.

Alex Mashinsky, CEO perusahaan peminjaman cryptocureency Celcius Network merasa nilai bitcoin lebih memberikan rasa optimis. Dimana ia mengatakan, tidak hanya US$ 15.000 yang akan terjadi, namun prediksi saya sejak awal tahun bahwa bitcoin akan mengalami peningkatan yang sangat tinggi sebelum 2021.

Kenaikan nilai bitcoin pada tahun ini semakin luar biasa setelah sempat mengalami penurunan level di bawah US$ 5.000 pada pertengahan bulan Maret selama puncak kekhawatiran pandemi Covid-19.