Akibat Pandemi, Industri Penerbangan Diperkirakan Rugi Rp 2.213 T

Bisnis – Industri penerbangan diprediksikan akan mengalami kerugian besar sampai mencapai US$ 157 miliar atau sebesar Rp 2.213 triliun di tahun 2020 dan tahun 2021 akibat dari pandemi Covid-19 oleh Asosiasi Transportasi Udara Internasional (IATA/International Air Transport Association).

Hal tersebut munyusul setelah adanya pembatasan wilayah atau lockdown akibat dari hantaman gelombang kedua atau second wave kasus pandemi Covid-19 di Eropa dan Amerika Serikat (AS).

Berdasarkan laman Reuters, dalam periode 2020 dan 2021 industri penerbangan diperkirakan mengalami kerugian yang mencapai sebesar US$ 157 ini lebih besar dari sebelumnya yaitu US$ 100 miliar. Dimana kerugian yang terjadi di 2020 sebesar US$ 118,5 miliar dan di tahun 2021 sebesar US$ 28,7 miliar.

Prospek yang mengerikan ini menunjukkan tantangan yang dihadapi oleh industri penerbanan masih tinggi walaupun sudah terdapat kabar baik dari pengembangan vaksin Covid-19.

Alexandre de Juniac, Direktur Jenderal IATA mengatakan bahwa dampak positifnya terhadap ekonomi serta lalu lintas udara tidak akan terjadi secara besar-besaran sampai pertengahan tahun 2021, dalam laman Reuters, Selasa (24/11/2020).

IATA mengatakan kerugian yang terjadi karena adanya penurunan jumlah penumpang di tahun 2020 yaitu sebanyak 1,8 miliar, dimana pada tahun sebelumnya mencapai sebesar 4,5 miliar penumpang. IATA memprediksikan pemulihan jumlah penumpang di tahun depan tidak akan terjadi secara signifikan, dan diperkirakan jumlah penumpang hanya berada di kisaran 2,8 miliar.

Dengan demikian, pendapatan industri penerbangan diprediksikan mengalami kerugian sebesar 69% atau sebesar US$ 191 miliar di tahun 2020

Brian Pearce, Kepala ekonom IATA mengatakan sejauh ini, pandemi Covid-1 merupakan kejutan terbesar yang dialami oleh industri penerbangan setelah perang dunia.