Trump Janji Menangkan Perang Dagang Dengan China, Ternyata Hanya Bualan Trump Saja

Dunia – Donal Trump maemulai perang dagang dengan China untuk memperbaiki hubingan yang dia anggap tidak adli di antara kedua ekomomi terbesar di dunia itu.

Tetapi menjelang pemilu November, dia Tidak memiliki banyak prestasi perang dagang untuk ditunjukan.

Mengutip dari CNN Selasa (27/10), Trump berjanji memotong defisit perdagangan AS, Tetapi malah mencapai level tertinggi dalam sejarah, dia ingin Chinna membeli banyak produk Amerika, Tetapi itu tidak terjadi sebanyak yang diinginkan pemerintah, Bahkan dia hampir tidak membuat kemajuan dalam masalah struktural besar yang paling dipedulikan perusahaan Amerika.

Terlepas dari jani Trump mempersempit defisit perdagangan Amerika dengan meberlakukan tarif yang tinggi pada barang-barang China, Yang ada kesengajaan malah menjadi-jadi, Biro Sensus AS mencatat defisit neraca dagang pada bulan Agustus melbr menjadi lebih dari US$ 76 Miliar, Penghitungan bulanan tertinggi dalam 14 tahun defisit dengan China sendiri turun sekitar 7% dan Juli Tetapi masih sekitar US$ 26 Miliar.

Peningkatan defisit secara keseluruhan itu mungkin tidak ada hubungan AS-China dari pada degan pandemi virus Corona, Yang menghentikan perdagangan luar negri karena melakukan LockDown.

Trump menjadikan defisit sebagai inti dari pertengkaran dengan China, Padahal para ahli berpendapat bahwa itu belum tentu berdanpak negatif bagi ekonomi, Bahkan sebelumnya pandemi melanda, Kesenjangan antra ekspor dan imor masih lebih tinggi dibandingkan saat dia menjabat.

Sementara perdagangan terpukul akibat pandemi, Data bea dan cukai China mencatat surplus China dengan Amerika Serikat sekitar US$ 31 Miliar pada bulan September, Perang dagang juga awalnya menyebabkan penderitaan yang serius bagi para petani Amerika, Meskipun pemulihan baru-baru ini dalam penjualan kedelai mulai menarik perhatian.

Intinya adalah bahwa tarif menyebabkan banyak kerusakan jaminan di AS dan tidak mencapai tujuan yang dimaksudkan ucap William Reinsch, Pakar perdagangan di Pusat Kajian Strategis dan International (CSIS) yang menjabat selama 15 tahun sebagai President Dewan Perdagangan Luar Negri National.

Lalu Trump memulai di tahun 2020 dengankesepakatan perdagangan parsial AS_China, Kedua negara setuju untuk mengurangi beberapa tarif dan memungkinkan Beijing untuk menghindar pajak tambahan pada hampir US$ 160 Miliar, China juga setuju menghindari pajak tambahan pada hampir US$ 200 Miliar selama beberapa tahun kedepan.

itu terjadi sebelum pandemi menghancurkan ekonomi global, Pada Agustus, menurut analisis dari Peterson Institude for International Economics, China sedang dalam kecepatan untuk membeli kurang lebih dari setengah dari apa yang telah disepakati.

Sementara penasihat ekonomi utama Gedung Putih Larry Kudlow mengatakan bulan lalu hubungan perdagangan dengan Beijing baik-baik saja, Pembicaraan untuk meninjau kembali gencatan senjata sementara dan membahas perjanjian masa depan tampaknya telah ditunda tanpa batas waktu.

Kasus kegagalan Trump sudah jelas kata Reisch anda dapat melihat dalam kegagalannya untuk menbuat kemajuan pada apa yang disebut masalah strujtual yang menjadi dasar tindakan (Pemerintah) sejak awal.

Reinsch mengatakan kedua negara adidaya tersebut belum sepenuhnya menangani beberapa keluhan terbesar Washington tentang Beijing, termasuk favoritismenya terhadap perusahaan milik negara dan tuduhan Trump bahwa negara itu mencuri teknologi AS.

Pejabat China telah berulang kali membantah tuduhan tersebut dan berpendapat bahwa rahasia teknologi apa pun yang diserahkan adalah bagian dari kesepakatan yang telah disepakati bersama.

Masalah-masalah itu semua ditunda ke tahap 2 negosiasi, yang tidak pernah dimulai dan sekarang tampaknya tidak mungkin untuk dimulai, tambah Reinsch.