Tempo 2 Minggu, CPO mengalami Penurunan Lebih dari 12%

Usaha Dagang, Bisnis – Harga CPO (Crude Palm Oil) atau miyak sawit mentah mengalami penurunan pada minggu ini, melanjutkan kinerja buruk pada pekan lalu. Hal ini disebabkan oleh banyaknya sentimen negative yang menghantam CPO pada minggu ini, mulai dari penurunan permintaan di China hingga boikot yang dilakukan Amerika Serikat (AS).

Sepanjang minggu ini, harga CPO mengalami penurunan sebesar 4,04% ke level 2.708 ringgit/ton, dan nilai ini menyentuh level terendah sejak 27 Agustus lalu. Dua minggu lalu, CPO berhasil melambungkan levelnya ke level tertinggi dalam 8 bulan terkahir, namun setelah menyentuh level 3.104 ringgit/ton, pada pekan itu juga levelnya langsung mengalami penurunan sebesar 8,38%. Dengan begitu, harga CPO dalam tempo dua pekan mengalami penurunan sebesar 12%.

Reuters melaporkan bahwa para trader di negara Tirai Bambu mulai melikuidasi posisi mereka, hal tersebut dikarenakan menjelang liburan Golden Week dari tanggal 1-8 Oktober.

Bursa Komoditas Dalian akan segera libur, hal ini akan membuat permintaan ekspor dari negara Tirai Bambu tidak ada selama satu minggu, ucap trader CPO yang berbasis di Kuala Lumpur.

Sedangkan, Amerika Serikat terjadi peningkatan panen kedelai, dimana hal ini akan memberikan tekanan untuk CPO. Minyak kedelai adalah salah satu komptitot CPO, ketika terjadi peningkatan panen kedelai artinya akan terjadi penambahan suplai, sementara demand sedang terjadi penurunan, maka harga minyak kedelai juga akan mengalami penurunan, Hal ini yang akan menyebabkan harga CPO mengalami penurunan juga.

Menurut data dari Departemen Pertanian Amerika Serikat, progress pemanenan kedelai telah mencapai sebesar 20% sampai Senin minggu ini.

Progress tersebut lebih tinggi jika dilihat dari rata-rata pencapaian dalam lima tahun terakhir yang hanya sebesar 15% dan di atas consensus yang dihimpun oleh Reuter di angka 18%.

Sementara itu, impor minyak sawit dan turunannya yang dihasilkan dari FGV Holding Bhd Malaysia yang adalah salah satu perusahaan produsen minyak terbesar di dunia dikabarkan diblokir Amerika Serikat.

Berdasarkan halaman Bloomberg, pengirman yang berasal dari perusahaan atau anak perusahaan mengalami penahanan di semua pelabuhan masuk Amerika Serikat. Hal ini disampaikan oleh Departemen Perlindungan Bea dan Perbatasan Amerika Serikat, Rabu (30/9/2020) waktu setempat.

Dalam laporan tersebut, disampaikan bahwa terdapat kerja paksa yang dilakukan. Perintah tersebut adalah hasil dari penyelidikan selama setahun yang mengatakan bahwa terdapat penipuan, pembatasan pergerakan, isolasi, intimidasi, kekerasan fisik, serta seksual terhadap tenaga kerja, pernyataan Bea Cukai As, melalui media Amerika Serikat.