Merosot 69,2 Persen Defisit Dagang RI Dengan China

Usaha Dagang, Bisnis – Neraga perdagangan yang terjadi antara Indonesia dengan China membukukan penurunan defisit yang signifikan sepanjang bulan Januari sampai Agustus 2020.

Neraca perdanganan yang terjadi pada periode Januari sampai Agustus 2020 mengalami penurunan defisit sebesar 69,2 persen jika dibandingkan periode yang sama pada tahun sebelumnya. Jika tren tersebut berlangsung terus-menerus, dipastikan defisit perdagangan yang terjadi sampai akhir tahun ini akan berkurang banyak, ucap Djauhari Oratmangun, Duta Besar Indonesia untuk China dan Mongolia, Jumat (9/10/2020).

Secara keseluruhan, Djauhari mengatakan bahwa kinerja perdanganan Indonesia ke China terus meningkat walaupun di tengah pandemi Covid-19. Kinerja tersebut didorong oleh peningkatan sejumlah produk unggulan serta potensial ekspor yang dilakukan Indonesia ke China.

Berdasarkan data yang dirilis Kepabeanan China, nilai perdagangan yang dilakukan Indonesia – China pada periode Januari sampai Agustus 2020 sebesar US$ 48,7 milliar, ucap Djauhari.

Berdasarkan jumlah tersebut, ekspor Indonesia ke China mencapai US$ 23,3 miliar atau mengalami pertumbuhan sebesar 6,4 persen jika dibandingan dengan tahun sebelumnya pada periode yang sama, lanjut Djauhari.

Sedangkan, untuk nilai impor Indonesia dari China pada periode Januari sampai Agustus sebesar US$ 25,4 miliar, dimana nilai ini mengalami penurunan sebesar 11,8 persen jika dibandingkan periode yang sama pada tahun sebelumnya.

Sejumlah produk unggulan dan potensial yang di miliki Indonesia mengalami peningkatan secara signifikan, yaitu besi dan baja (HS72) meningkat sebesar 134.3 persen, tembaga (HS74) meningkat sebesar 88,5 persen, alas kaki (HS64) meningkat sebesar 31,9 persen, kertas dan paperboard (HS 48) meningkat sebesar 118,7 persen, dan produk perikanan (HS 03) meningkat sebesar 16,2 persen.

Selain itu, produk seperti karet (HS 40) juga meningkat sebesar 25,8 persen, plastik (HS 39) meningkat sebesar 20,4 persen, timah (HS 80) meningkat sebesar 1163,6 persen, aluminium (HS 76) meningkat sebesar 4124,1 persen, bahan kimia anorganik (HS28) meningkat sebesar 63,1 persen, buah-buahan tropis (HS 08) meningkat sebesar 72,8 persen.

Komoditas lainnya seperti kopi, teh dan rempah-rempah (HS 09) juga mengalami peningkatan sebesar 280,8 persen, produk tekstil (HS 63) meningkat sebesar 3296,3 persen dan produk kain khusus (HS 56) meningkat sebesar 54,2 persen.

Selain itu, realisasi investasi yang dilakukan China di Indonesia pada periode Januari sampai Juli 2020 sebesar US$ 2,4 miliar, angka tersebut mengalami peningkatan sebesar 9 persen jika dibandingkan dengan periode yang sama pada tahun sebelumnya

Dengan begitu, Tirai Bambu ini merupakan negara investor kedua terbesar di Indonesia. Namun, apabila ditambah dengan ivestasi yang berasal dari Hong Kong senilai US$ 1,7 miliar, maka bisa dikatakan China adalah negara investor pertama terbesar di Indonesia.