Megaproyek di Afrika Siap Dikeroyok 5 BUMN Senilai US$ 11 Miliar

Bisnis – Megaproyek di Afrika senilai US$ 11 miliar siap dikeroyok oleh lima BUMN yang terdiri dari PT INKA (Persero), PT Barata Indonesia (Persero), PT LEN (Persero), PT Merpati Nusantara Airlines (Persero) dan PT Dirgantara Indonesia (Persero).

Dimana beberapa bulan yang lalu, kelima BUMN tersebut bersama dengan investor TSG Group yang berpusat di Amerika Serikat sudah menindaklanjuti kesepakatan bersama berupa Master Framework Join Development Agreement (MFJDA) dengan Democratic Republic of the Cango (DRC).

Hasil dari tindak lanjut kesepakatan yang pertama tersebut diwujudkan dalam 2 kesepatakan antara TSG Group dengan kelima BUMN adalah berupa Master Implementation Join Development Agreement (MIJDA) dan juga TSG Group dengan pemerintah DRC Build Own Operate Transfer (BOOT).

Budi Noviantoro, Direktur PT INKA (Persero) menuturkan bahwa PT INKA (Persero) akan memproduksi kebutuhan transprotasi di DRC. Berbagai jenis kereta yang nantinya akan diproduksi termasuk juga dalam hal infrastruktur perkeretaapiannya yang nantinya akan dikejakan BUMN lain di Indonesia. Dr. Ruber Sandi CEO TSG Global Holdings, Francois Nikuna Balumuene Duta Besar DRC untuk USA, Mr. Alexy Kayembe De Bampende Penasehat Khusus Presiden DRC bidang Infrastruktur, dan Syaiful Idham CEO PT TGS Utama Indoneisa yang turut hadir.

PT INKA (Persero) akan menjadi project developer dalam perkeretaapian serta intermodal di DRC. PT INKA juga akan supply lokomotif, gerbong barang, Kereta Rel Diesel Elektrik (KRDE), dan juga Kereta Rel Listrik (KRL). Setelah itu kita akan ajak beberapa BUMN karya di Indonesia untuk mengerjakan infrastruktur perkeretaapiannya di sana, ucap Budi, Rabu (14/10/2020).

Budi juga menambahkan bahwa proyek dengan total nilai sekitar US$ 11 Miliar tersebut akan dikerjakan mulai Fasi I dengan jangka waktu 4 tahun yang dimulai pada tahun 2021. Fase Pertama ini akan dikerjakan meliputi proyek kereta api Kinshasa Urban Loop Line yaitu transportasi di daerah perkotaan setelah itu dilanjutkan jalur Kinshasa menuju Matadi Port serta Banana Port.

Panjang jalur kereta yang dilakukan pada fase pertama ini sepanjang 580 kilometer dengan target Kinshasa Urban Loop Line dan jalur kerta menuju Matadi Port serta Banana Port. Dimana setelah fase pertama selesai, kita lanjutkan ke fase berikutnya sampai jalurnya sepanjang 4100 kilometer terbangun mencakup wilayah utara dan selatan DRC, ucapnya.

Selain proyek ini, PT INKA (Persero) juga ikut serta dalam proyek Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) dengan kapasitas 200 Mega Watt peak (MWp) di Kinshasa, DRC, Afrika. PT Len Industri (Persero), PT Barata Indonesia (Persero), dan PT INKA (Persero) adalah perusahan yang melakukan pembiayaan bersama (konsorsium) untuk mengerjakan proyek tersebut.

Acara groundbreaking proyek PLTS tersebut telah berlangsung pada tanggal 19 Agustus 2020 yang bertempat di daerah Kinshasa, dimana pada acara tersebut dihadiri presiden DRC, Mr. Felix Tshisekedi, CEO TSG Global Hodings Dr Rubar Sandi, serta disaksikan oleh para pejabat dari instansi terkait.

Budi juga mengatakan PLTS yang dibangun selain untuk memasok kebutuhan listrik masyarakat sekitar, PLTS tersebut ketika sudah mulai beroperasi, juga akan dimanfaatkan untuk pasokan listrik di sektor transportasi yaitu untuk mendukung operasional sarana kereta salah satunya Kereta Rel Listrik (KRL).

Diketahui, ekspansi ke DRC tersebut akan memberikan penambahan supply record PT INKA (Persero) ke pasar luar negeri setelah 250 Kereta Bangladesh kemarin dikirim pada awal Oktober 2020. Proyek lain yang sedang dikerjakan oleh PT INKA (Persero) yaitu 3 Lokomotif dan 15 Kareta Commuter ke Filipina dengan nilai mencapai Rp 363 miliar dan 31 Transet LRT untuk PT KAI (Persero) dengan nilai sebesar Rp 3,9 triliun.