Kemenperin Genjot Produksi Garam Nasional

Usaha Dagang, Usaha Dagang Bertani –Pemenuhan garam industridi tanah air terus didorong Kementerian Perindustrian. Dimana kebijakan tersebut berangkat dari kebutuhan bahan baku pada sektor manafaktur yang terus diproyeksikan meningkat setiap tahunnya.

Di tahun 2020 kebutuhan garam mencapai sebesar 4,4 juta ton, dimana 84% dari angka tersebut adalah kebutuhan industri manufaktur, ditambah lagi adanya pertumbuhan industri eksisting sekitar 5-7% serta penambahan industri baru, ucap Agus Gumiwang Kartasasmita, Menteri Perindustrian dalam keterangan tertulis, Minggu (11/10/2020).

Menurut Agus, industri pengolahan garam dalam negeri masih belum sepenuhnya bisa memenuhi jumlah kebutuhan garam dalam sektor manufaktur. Oleh sebab itu, garam lokal masih perlu ada peningkatan dalam segi kuantitas, kualitas, kontinuitas pasokan, serta kepastian harga.

Impor garam yang dilakukan sebenarnya keterpaksaan, hal tersebut untuk menjamin kepastian pasokan bahan baku garam untuk industri dalam negeri, khusunya pada sektor alkali (chlor alkali plant/CAP), pulp, kertas, aneka pangan, farmasi, kosmetik, serta pengeboran minyak, jelasnya.

Pemerintah juga terus melakukan upaya dalam meningkatkan kualitas garam produksi dalam negeri dengan berberapa cara, yaitu menggunakan metode produksi serta penerapan teknologi di lahan maupun industri pengolah garam, dan melakukan koordinasi dengan kementerian serta lembaga lain. Agus juga menambahkan bahwa nilai tambah pada garam dihasilkan dari proses produksi, sehingga pengolahan garam impor akan diekspor kembali dengan proyeksi nilai yang lebih besar. Ia mencontohkan, nilai impor garam industri pada tahun 2019 berada pada angka US$ 108 juta, sedangkan untuk produk ekpor yang dihasilkan mencapai US$ 37,7 miliar.

Di bawah koordinasi Kementerian Riset dan Teknologi, Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi sudah mencanangkan beberapa program yang digunakan untuk meningkatkan pemanfaatan garam lokal pada sektor industri, ucap Agus.

Dimana program yang dimaksud antara lain adalah implementasi teknologi garam tanpa lahan yang dihasilkan dari rejected brine pembangkit listrik tenaga uap (PLTU) yang kemudian mendorong pabrik melakukan pemurnian garam rakyat menjadi garam industri. Dimana proyek ini sudah dibagun di Gresik dan sudah dapat menghasilkan garam dengan kapasitas 40 ribu ton.

Terdapat juga perbaikan lahan pergaraman dengan melakukan pembenahan lahan pergaraman yang terintegrasi minimum 400 hektare.

Pemerintah juga mendorong revitalisasi serta pengembangan pabrik garam farmasi oleh PT Kimia Farma dan mendorong investasi pembangunan lahan garam industri di Nusa Tenggara Timur.

Masukan Pelaku Industri

Kementerian Perindustrian juga meminta masukan dari para pelaku industi pengolahan garam, dimana hal ini bisa mendorong pembangunan industri garam nasional, yang salah satunya adalah PT Unichemcandi Indonesia,

PT Unichemcandi Indonesia adalah salah satu industri pengolahan garam yang memasok garam untuk digunakan sebagai bahan baku untuk industri makanan dan minuman, pengeboran minyak. Perusahan ini juga melakukan produksi garam konsumsi beriodium dalam negeri dengan menggunakan metode pencucian (washing salt) dan juga menggunakan metode rafinasi (refine salt), ucap Agus.

Agus juga menjelaskan bahwa PT Unichemcandi Indonesia masih menjadi satu-satunya produsen garam konsumsi beriodium dengan menggunakan metode rafinasi dengan sistem teknologi automatic dan robotic system yang sejalan dengan Making Indonesia 4.0.

Dengan teknologi yang sudah dimiliki oleh perusahaan tersebut, kami berharap PT Unichemcandi Indonesia bisa berpartisipasi aktif dalam upaya-upaya pemerintah untuk bisa mensubstitusi kebutuhan impor garam, dan terus melakukan peningkatan penyerapan garam lokal untuk diolah menjadi garam konsumsi ataupun garam industri, jelasnya.