Izin Usaha First Indo American Leasing (FINN) Dicabut OJK

Bisnis – Izin usaha perusahan pembiayaan PT First Indo American Leasing Tbk. (FINN) telah dicabut oleh Otoritas Jasa Keuangan (OJK) per tanggal 20 Oktober 2020.

Melalui Keputusan Dewan Komisioner Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Nomor KEP-50/D.05/2020, sanksi yang dikenakan kepada PT First Indo American Leasing Tbk. (FINN) adalah pencabutan izin usaha. Pengumuman ini berdasarkan laman terdapat pada laman website Otoritas Jasa Keaungan, Sabtu (31/10/2020).

Sejak berlakunya Surat Keputusan (SK) Dewan Komisioner Otoritas Jasa Keuangan, maka pencabutan izin usaha perusahaan yang berada di jalan Batu Ceper Nomor 36 Lantai 3, Jakarta Pusat, sudah ditetapkan.

Dengan dicabutnya izin usaha yang dimaksud dalam Surat Keputusan, FINN dilarang melakukan kegiatan usaha apapun pada bidang perusahaan pembiayaan. FINN juga diwajibkan untuk menyelesaikan hak serta kewajiban sesuai dengan ketentuan perundang-undangan yang berlaku yaitu:

Pertama : Menyelesaikan hak dan kewajiban Debitur, Kreditur, dan/atau pemberi dana yang berkepentingan harus dilakukan oleh perusahaan.
Kedua : Perusahaan harus memberikan informasi secara jelas kepada Debitur, Kreditur, dan/atau Pemberi dana yang berkepentingan mengenai mekanisme penyelesaian hak dan kewajiban.
Ketiga : Perusahaan harus menyediakan Pusat Informasi dan Pengaduan Nasabah di Internal Perusahaan.

Selain itu, berdasarkan ketentuan pasal 73 Peraturan Otoritas Jasa Keuangan (POJK) Nomor 28/POJK.05/2014 mengenai Perizinan Usahan dan Kelembagaan Perusahaan Pembiayaan, Perusahaan yang sudah dicabut izin usahanya dilarang menggunakan kata finance, pembiayaan, atau kata yang mencirikan kegiatan pembiayaan dan pembiayaan syariah, dalan nama perusahaan.

Otoritas Jasa Keuangan (OJK) sebelumnya juga telah menyampaikan surat keputusan yang berisi pembekuan kegiatan usaha FINN per tanggal 11 Agustus 2020 lalu, karena tidak memenuhi ketentuan pembiayaan.

Menurut laporan, posisi keuangan per tanggal 30 Juni 2020, perseroan membekukan rugi bersih tahun berjalan sebesar Rp. 44.40 miliar, angka tersebut mengalami pembengkakan dari periode yang sama di tahun sebelumnya yang mencatat rugi sebesar Rp 8,18 miliar.