Di Akhir Tahun, Sektor Jasa Keuangan Diyakini OJK akan Membaik

Usaha Dagang, Keuangan – OJK (Otoritas Jasa Keuangan) menyampaikan bahwa sektor jasa keuangan berada pada kondisi yang baik serta terkendali di masa pandemi virus corona saat ini.

Hal ini ditunjukkan oleh permodalan serta likuiditas yang mencukupi dan profil risiko yang masih terjaga. Di bulan Agustus 2020, rasio Capotal Adequacy Ratio (CAR) masih terjaga di level cukup tinggi, yaitu sebesar 23,39 persen jika dibandingkan dengan kuartal II-2020 sebesar 22,5 persen.

Wimboh Santoto, Ketua Dewan Komisioner OJK dalam konferensi pers KSSK IV 2020, Selasa (27/10/2020), menyampaikan bahwa permodalan tidak mengalami masalah, hal ini cukup untuk mendukung pertumbuhan kredit perbankan, bisnis plan bank sampai akhir tahun 2020 mengalami pertumbuhan sekitar 3 persen (year-on-year/yoy).

Selain itu, kecukupan juga terjaga. Rasio Aset Likuid terhadap Non-Core Deposit (AL/NCD) per bulan Oktober 2020 mengalami penguatan sebesar 153,6 persen yang sebelumnya hanya 122,59 persen pada akhir kuartal II/2020.

Sementera itu, terjadi juga peningkatan pada Rasio Aset Likuid terhadap Dana Pihak Ketiga (AL/DPK) di level 32,88 persen, jika dibandingkan dengan angka di kuartal II/2020 hanya 26,24 persen. Untuk Rasio Aset Lukuid terhadap Dana Pihak Ketiga ini masih jauh di bawah tresshold minimum.

Sedangkan untuk Dana Pihak Ketiga (DPK) di bulan Agustus 2020 mengalami pertumbuhan sebesar 11,64 persen (yoy), dimana angka ini meningkat jika dibandingkan dengan kuartal II/2020 hanya 7,95 persen.

Peningkatan Dana Pihak Ketiga ini masih didominasi oleh pertumbuhan DPK pada bank BUKU IV yang mencapai sebesar 15,26 persen year-on-year (yoy). Terjadinya peningkatan pada DPK bank BUKU IV ini karena dukungan penempatan dana yang dilakukan oleh pemerintah.

Sementera NPF (Non Performing Financing) untuk setiap perusahaan pembiayaan pada level 5,23 persen, angka ini mengalami peningkatan sedikit jika dibandingkan dengan kuartal II 2020 di level 5,17 persen.

Adapun untuk pasar modal dapat menghimpun dana sebesar Rp 92,9 triliun sampai tanggal 20 Oktober 2020. Tercatat terdapat sekitar 45 emiten baru dan juga terdapat sekitar 50 emiten yang melakukan pencatatan saham perdana (initial public offering/IPO) sebesar Rp 21,2 triliun.

Otoritas Jasa Keuangan (OJK) juga mencatat permintaan kredit masih terlihat belum pulih dari angka pertumbuhannya hanya mencapai satu digit, yaitu sekitar 1,04 persen pada bulan Agustus 2020.

Pengajuan restrukturisasi kredit juga dilakukan oleh para debitur untuk meminta keringanan kredit. Program restrukturisasi kredit per tanggal 28 September 2020 di perbankan yang dilakukan oleh 7,5 juta debitur mencapai angka sebesar Rp 904,3 triliun.

Bahkan di perusahaan pembiayaan, restrukturisasi untuk 4,6 juta kontrak mencapai angka sebesar Rp 170,17 triliun per tanggal 29 September 2020.

Tetapi, pertumbuhan secara bulanan (month-to-month/mtm) NPL (Non Performing Financing) sudah kembali positif setelah di bulan April sampai Juni mengalami kontraksi cukup dalam.

Untuk mendorong pemulihan kredit perbankan, pemerintah saat ini menempatkan dana di bank sebesar Rp 47,5 triliun serta mendorong kredit sebesar Rp 166,39 triliun.

Selain itu, BPD (Bank Pembangunan Daerah) sudah menerima penempatan dana sebesar Rp 14 triliun yang mendorong penyaluran kredit sebesar Rp 17,39 triliun, dan untuk bank syariah penempatan dananya sebesar Rp 3 triliun yang disalurkan dalam bentuk kredit sebesar Rp 1,7 triliun.

Menurut pandangan kami, di akhir tahun 2020 ini kondisinya akan jauh lebih bagus dari saat-saat beberapa bulan terakhir, jelasnya.