Demo Buruh Tolak Omnibus Law, Rupiah Stagnan di Rp14.710 Per Dolar AS

Usaha Dagang, Keuangan – Nilai tukar rupiah berada pada level Rp14.710 per dolar AS pada perdagangan pasar spot Kamis (8/10) sore. Rupiah terlihat tidak ada pergerakan yang berarti jika dibandingkan dengan perdagangan sore kemarin di level Rp14.735 per dolar AS.

Sementara itu, suku bunga acuan Bank Indonesia (BI), Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (Jisdor), menempatkan rupiah di level Rp14.750 per dolar AS, naik dari Rp14.784 per dolar AS pada perdagangan sebelumnya.

Sore ini, mayoritas mata uang di Asia terpantau menguat terhadap dolar AS. Dolar Singapura menguat 0,14 persen, won Korea Selatan menguat 0,45 persen.

Disusul dengan peso Filipina menguat 0,07 persen, rupee India menguat 0,12 persen, yuan China menguat 0,37 persen, ringgit Malaysia menguat 0,29 persen, dan bath Thailand menguat 0,05 persen.

Sedangkan hanya dolar Taiwan yang tercatat melemah sebesar 0,23 persen. Sementara itu, pergerakan yen Jepang stagnan seperti rupiah.

Namun hal berbeda dialami oleh mata uang negara-negara maju, yang justru bergerak melemah terhadap dolar AS. Poundsterling Inggris tercatat melemah 0,32 persen, dolar Australia melemah 0,35 persen dan franc Swiss melemah 0,05 persen. Hanya dolar Kanada yang terpantau menguat 0,14 persen.

Analis dan Kepala Riset Monex Investindo Ariston Tjendra, penguatan rupiah hari ini tertahan karena pelaku pasar menyadari gejolak reaksi Omnibus Law Cipta Kerja (Ciptaker Law) di berbagai daerah.

Padahal, mestinya rupiah ikut menguat bersama mata uang Asia lainnya karena pelemahan dolar yang dipicu oleh penolakan Presiden AS Donald Trump terhadap paket stimulus ekonomi tahap kedua.

Persetujuan parsial Trump atas stimulus AS memberikan sentimen positif pada aset berisiko. Tapi mungkin karena demonstrasi, penguatan rupiah tertahan, kata Ariston.

Meski begitu, dinamika mengenai stimulus Covid-19 di AS masih akan berdampak pada pelaku pasar keuangan domestik hingga besok.

Dari sisi eksternal, sentimen pasar masih positif sehingga akan membantu penguatan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS, ujarnya.