Semakin Mahalnya Barang di AS Dampak dari Pandemi Corona

Usaha Dagang, Dunia – Konsumsi di Amerika Serikat (AS) telah dipengaruhi oleh pandemi Corona mulai dari pakaian hingga makanan. Meningkatnya permintaan barang tertentu, serta terganggunya rantai pasokan global telah menaikkan harga.

“Segala sesuatu yang kita ketahui tentang penawaran dan permintaan, pada dasarnya dapat kita buang karena perilaku konsumen telah benar-benar berubah,” kata Piotr Dworczak, asisten profesor ekonomi di Northwestern University.

Permintaan dan harga barang mewah meningkat. Misalnya, sepatu kets Nike Air Max harganya US$ 106, celana yoga Lululemon harganya US$ 105, bahkan tas Louis Vuitton harganya US$ 1.500.

Menurut data Nielsen, konsumen juga membayar sekitar 8% lebih mahal untuk kopi instan JM Smucker, termasuk Folger’s dan Dunkin. Mereka juga menghabiskan hampir 10% lebih banyak uang untuk saus Kraft Heinz dan sekitar 5% ekstra untuk irisan ham Tyson Foods (TSN.N).

Inflasi semacam itu mungkin masuk akal secara komersial, mengingat lonjakan permintaan rumah tangga. Namun di sisi lain, retailer dan brand besar dinilai sengaja mengurangi promosi dan menggunakan kekuatannya untuk menopang keuntungan di tengah krisis.

“Produsen telah menggemukkan kantong mereka dengan keuntungan sambil memberikan tekanan yang belum pernah terjadi sebelumnya pada konsumen yang harus membayar harga yang lebih tinggi ini,” kata Burt Flickinger, konsultan ritel di Strategic Resource Group.

Melihat dari sisi lain, perusahaan dinilai harus bergulat dengan perubahan produksi yang mahal untuk beradaptasi dengan lanskap baru. Jadi wajar kalau mereka mengurangi promosi. Para ahli mencatat bahwa sebelum pandemi, ketika biaya lebih rendah dan ada lebih banyak promosi dan diskon. Misalnya, perhatikan jatuhnya harga saus Heinz.

Belum lagi harus ada perubahan cara produksi, misalnya yang terjadi pada pemasok telur, seperti market leader Cal-Maine Foods Inc. Mereka harus mengatasi penambahan kemasan karton.

Untuk mendorong perubahan maka diperlukan harga yang tinggi, seperti yang diungkapkan oleh Daniel Bachman, ekonom senior AS di Deloitte, Daniel mengatakan jika melihat telur, agar bisa sampai ke supermarket harus dimasukkan ke dalam wadah karton.

Selanjutnya, saat penjualan saus tomat, mayones, dan cuka melonjak, Kraft Heinz mengalihkan sumber daya untuk menjalankan jalur produksi non-stop. Mereka harus menambah shift ekstra bagi pekerja pabrik, dan mau tidak mau menambah beban produksi.