Pengendalian OPT oleh Kementan demi Meningkatkan Produksi Pala

Usaha Dagang, Usaha Dagang Bertani – Organisme Pengganggu Tanaman (OPT) seringkali menjadi masalah bagi para pekebun. Jika hama ini tidak ditangani dengan baik maka akan berdampak pada produksi komoditas perkebunan. Khususnya saat ini banyak serangan terhadap pala, penggerek batang, busuk buah basah / kering, dan cendawan.

Azwin Amir yang merupakan Kepala Balai Besar Pemuliaan dan Perlindungan Tanaman Perkebunan (BBPPTP) Ambon mengatakan OPT pala berpengaruh sangat kuat terhadap penurunan produksi yaitu penggerek batang. Selain itu juga terdapat hama lain seperti busuk buah basah dan kering, kanker batang, pecahnya buah muda, dan jamur akar putih.

“Jika hama ini tidak ditangani dengan baik dapat menyebabkan kematian tanaman dan berpotensi menyebabkan kehilangan hasil lebih dari 8 ton per tahun,” kata Azwin Amir di Jakarta beberapa waktu lalu.

Azwin mengatakan, pengendalian hama dilakukan melalui Pengendalian Hama Terpadu (PHT), yaitu secara teknis dibudidayakan dengan menggunakan benih berkualitas, serta pemangkasan dan pemupukan yang seimbang. Ada juga cara mekanis, yaitu dengan sanitasi dan pemusnahan tanaman yang terkena dampak parah.

Secara biologis, lanjut Azwin, pengendalian hama dapat dilakukan dengan aplikasi agen pengendali hayati jamur entomopatogen dan antagonis. Sedangkan pengendalian kimiawi dilakukan dengan menggunakan bahan aktif yaitu Asefat dan Carbofuran.

Menurut Azwin, keberhasilan pengendalian hama pala di lapangan sangat didukung oleh kemampuan sumber daya manusia khususnya petugas lapangan dan pemilik perkebunan.

“Pengendalian hama dilakukan agar kerugian petani bisa diminimalisir, sehingga pendapatan dari produksi khususnya tanaman pala bisa meningkat dari tahun ke tahun,” kata Azwin.

Selain pengendalian hama, lanjut Azwin, upaya pemerintah adalah untuk meningkatkan kualitas produk dan nilai jual. Sebagai komoditas ekspor, produk pala sudah memiliki pasar internasional.

“Pada tahun 2020 Provinsi Maluku telah menerapkan sertifikasi produk organik untuk skema ekspor (SNI dan EU) dengan ruang lingkup produk benih, bunga pala dan daging buah,” pungkasnya.