Pengalokasian 10 Persen Cukai Tembakau Untuk Alih Bidang Petani

Usaha Dagang, Usaha Dagang Bertani – Untuk pengadaan program pelatihan dan pendampingan bagi para petani dan pekerja tembakau, pemerintah diminta untuk mengalokasikan 5-10 persen dari pendapatan cukai tembakau. Sehingga mereka bisa beralih ke komoditas lain yang tidak mengganggu kesehatannya.

“Industri rokok di negara maju sudah menjadi sunset industry. Namun, di negara berkembang industri rokok menjadi soft food bagi industri rokok. Sayangnya, efek rokok tidak langsung seperti COVID-19. Efek merokok akan mulai dirasakan dalam 30-40 tahun ke depan, anak-anak yang merokok sekarang akan menjadi beban di masa depan,” kata Hasbullah Thabrany selaku Peneliti Pusat Kajian Kebijakan Ekonomi dan Kesehatan (CHEPS), dikutip dari ANTARA, Rabu (9/9/2020).

Berbagai upaya telah dilakukan oleh sejumlah negara maju untuk mengurangi jumlah perokok. Sebab menurutnya hal itu bisa membuat generasi penerus menjadi tidak sehat.

“Jangan terjebak dalam pikiran jangka pendek, orang tua yang merokok mengakibatkan banyak anak ber-IQ rendah, stunting. Apabila hal tersebut terus berlanjut maka kita akan kesulitan bersaing,” ujarnya.

Menurut dia, kebijakan yang diperlukan saat ini adalah mengurangi konsumsi rokok. Namun hal tersebut dibarengi dengan pendampingan atau perlindungan petani tembakau diarahkan pada komoditas lain.

“Bagaimana kita mengurangi konsumsi rokok dan menciptakan generasi emas yang sehat juga cerdas,” ucapnya.

Dalam industri tembakau, Hasbullah menuturkan hanya kelompok usaha yang diuntungkan. Pajak cukai yang kerap dianggap menyumbang penerimaan negara kerap disebut-sebut berasal dari industri rokok.

Padahal, cukai yang diberlakukan oleh pemerintah memiliki prinsip dasar denda bagi mereka yang mengkonsumsi rokok karena berperilaku tidak sehat terhadap diri sendiri dan lingkungannya.

“Cukai bisa diartikan sebagai pungutan paksa untuk mengontrol konsumsi. Idealnya, pemungutan uang negara dari pajak harus meningkat, jika cukai turun, kalau kita benar-benar paham artinya. Kalau cukai terus naik, itu artinya konsumsi rokok akan terus meningkat dan upaya pengendalian tidak efektif,” ujarnya.

Sementara itu, Mogadishu Djati Ertanto, Kasubdit Program Pengembangan Industri Minuman, Produk dan Minuman Tembakau, mengatakan pihaknya memahami dan sepakat untuk memitigasi dampak merokok terhadap kesehatan.

Namun lanjutnya, wacana meminta petani dan buruh tembakau berpindah lahan perlu diikuti dengan kehati-hatian dan perencanaan yang matang.

“Perbedaan iklim, jenis tembakau, jenis tanah dan lain-lain perlu diperhatikan. Ada tembakau yang membutuhkan banyak air dan harus ditanam di tempat yang tepat begitu pula sebaliknya. Salah satu cara untuk mendukung petani tembakau dan pekerja serta pekerjanya adalah dengan memberi perlindungan pada ekosistem ini,” katanya.