Meningkat 2 Kali Lipat Biaya Impor Daging Sapi, Bagaimana Harga Pasar?

Usaha Dagang, Bisnis – Importasi daging sapi yang berasal dari Australia mengalami tantangan besar, hal tersebut dikarenakan naiknya biaya pengiriman sampai dua kali lipat.

Tetapi untuk pangsa pasar yang sudah tersegmentasi di dalam negeri mengakibatkan fluktuasi logistik sehingga tidak menjadi persoalan yang besar.

Suhandri, Sekretaris Jenderal Asosiasi Pengusaha Importir Daging Indonesia mengatakan bahwa biaya pengiriman untuk setiap kilogram daging sapi asal Australia biasanya dibanderol US$ 1,4. Namun, karena terjadinya frekuensi penerbangan yang menurun selama pandemi, hal tersebut menjadikan biaya pengiriman mencapai US$ 3 per kilogram.

Penerbangan yang berasal dari Australia ke Indonesia cukup sulit sehingga berimbas ke harga daging. Dimana biasanya dalam seminggu dapat terjadi empat kali penerbangan, tetapi sekarang hanya sekali saja. Bahkan untuk melakukan pengiriman kami lebih sering menggunakan penerbangan dari Taipei dan Singapure, ucap Suhandri, Selasa (8/9/2020).

Dia juga menjelaskan bahwa importir saat ini menahan diri untuk melakukan pemasukan daging sapi. Selain dikarenakan permintaan yang masih belum pulih akibat pandemi Covid-19, masuknya daging kerbau ke Indonesia dari India juga turut menjadi pertimbangan lain.

Impor daging sapi yang berasal dari Negara Kangguru tersebut masih mendominasi dengan volume sebesar 58.565 berdasarkan catatan BPS (Badan Pusat Statistik). Sedangkan, impor daging kerbau yang berasal dari India sampai bulan Juni telah mencapai 5.124 ton.

Untuk periode ini, pemerintah sudah memberi penugasan impor sebanyak 170.000 ton daging kerbau kepada tiga perusahaan pelat merah yaitu PT Perusahaan Perdagangan, Perum Bulog, serta PT Berdikari.

Suhandri menjelaskan bahwa harga daging sapi beku yang mempunyai kualitas menengah ke atas yang hanya mengisi 40 persen pasar daging yang berada dalam negeri sebenarnya tidak banyak terpengaruh oleh kondisi logistik. Dia juga mengatakan persaingan harga lebih banyak terjadi di tingkat pemasok yang ada di negara asal yang mana jumlah distributor ke Indonesia dapat mencapai 20 perusahaan.

Di pasar para komsumen sudah mengetahui bahwa daging sapi impor memang cenderung lebih mahal. Hal tersebut berbeda dengan 60 persen pasar industri pengolahan makanan serta segmen menengah ke bawah yang dihadapkan dengan opsi lain yaitu daging kerbau atau sapi, jelasnya.

Pasar yang sudah tersegmentasi ini menjadi keuntungan tersendiri untuk importir daging sapi. Suhandri menjelaskan penjualan ritel daging sapi dengan cara daring tercatat naik sebesar 5 persen karena beralihnya aktivitas konsumen menjadi sasaran.

Selain itu, menurut laporan Indonesia-Australia Red Meat & Cattle Partnership, konsumen daging sapi sekarang ini cenderung mengalihkan pembelian yang berasal dari pasar tradisional ke supermarket, bahkan pembeli daging sapi melalui media daring meningkat lebih dari 300 persen sepanjang semester I.

Berdasarkan laporan terbarunya, mereka menyakini bahwa permintaan daging sapi Indonesia tetap kuat walaupun terjadi perlambatan ekonomi.

Tercatat disetiap daerah mengalami penurunan sekitar 15-20 persen permintaan daging sapi. Bahkan terjadi penurunan sampai 60 persen di berbagai destinasi wisata yang diakibatkan oleh terbatasnya aktivitas perhotelan dan restoran.

Walaupun begitu, pembelian daging di supermarket mengalami peningkatan karena semakin banyak masyarakat yang memasak di rumah jika dibandingkan di restoran, tertulis dalam laporan itu.