Imbas Pandemi Corona, Puluhan Perusahaan Besar di AS Ajukan Pailit

Usaha Dagang, Dunia – Puluhan perusahaan berskala besar di Amerika Serikat (AS) mulai mengajukan kebangkrutan atau pailit di tengah resesi ekonomi negeri Paman Sam itu. Pengajuan kebangkrutan datang dari berbagai sektor bisnis, mulai dari penerbangan, minyak dan gas hingga hiburan.

Dikutip dari CNN Business, berdasarkan data Bank Investasi Jefferies, tercatat jumlah perusahaan yang pailit di AS meningkat 244 persen pada Juli-Agustus 2020 dibandingkan Juli-Agustus 2019. Bahkan diperkirakan akan meningkat lagi di bulan September ini.

Pasalnya, Jefferies mencatat kenaikan kebangkrutan dalam sebulan terakhir telah mencapai 120 persen. Baru-baru ini, kebangkrutan diajukan oleh Chesapeake Energy, perusahaan peralatan dapur kelas atas Sur La Table, dan Cirque du Soeil.

“Banyak perusahaan yang merugi meski kami bekerja 24 jam sehari,” ujar Joseph Acosta, partner di Dorsey & Whitney yang fokus pada masalah kebangkrutan, dikutip Senin (14/9).

Sementara itu, daftar perusahaan AS yang telah mengajukan pailit, yakni Brooks Brothers, Hertz, California Pizza Kitchen, serta Chuck E. Lord & Taylor dan Century 21 juga berpotensi bangkrut karena telah sepenuhnya menutup operasinya.

Sementara itu, perusahaan yang dikabarkan masih cukup beruntung bisa menemukan pembeli di tengah pandemi virus corona atau covid-19 adalah JCPenney, department store yang memiliki usia 118 tahun.

Dari sisi sektor bisnis, pengajuan kebangkrutan dari perusahaan di sektor penerbangan meroket 110 persen. Kemudian, industri minyak dan gas meningkat 45 persen dan industri hiburan meningkat 22 persen.

“Jumlah kebangkrutan belum mencapai puncaknya. Puncaknya akan datang saat pemerintah menghentikan paket bantuan,” kata Acosta.

Di sisi lain, Jefferies mencatat bahwa untuk pengajuan kebangkrutan dari perusahaan menengah ke bawah jumlahnya relatif lebih sedikit. Hal tersebut diduga terjadi berkat suntikan dana bantuan untuk sektor industri menengah kebawah dari bank sentral AS, The Federal Reserve.

Namun, ia menduga ada asumsi lain yang menghalangi perusahaan kecil dan menengah mengajukan pailit, yakni ketidakmampuan untuk menutupi biaya pengajuan pailit.

“Mungkin juga karena perbedaan kas/likuiditas yang tidak mencukupi untuk menyewa pengacara kebangkrutan,” jelas Analis Perbankan Jefferies Ken Usdin.