Hongkong Menjadi Salah Satu Tujuan Ekspor Ubi Jalar

Usaha Dagang, Usaha Dagang Bertani – Kementerian Pertanian (Kementan) terus memacu kegiatan ekspor pertanian di berbagai daerah. Hal tersebut bertujuan agar sektor pertanian semakin kuat dan berkontribusi bagi perekonomian nasional bahkan di tengah pandemi Covid-19. Untuk saat ini ekspor komoditas pertanian yang masih berjalan antara lain ubi jalar dari Jawa Barat (Jawa Barat) yang diekspor ke Hongkong.

Pelepasan 30 ton ekspor ubi jalar dilakukan oleh Gubernur Jawa Barat Ridwan Kamil, juga dihadiri oleh Direktur Aneka Kacang dan Umbi Kementerian Pertanian, Amirudin Pohan, Bupati Bandung Dadang Supriatna dan juga segenap jajaran Forkopimda Jabar Provinsi dan Kabupaten Bandung.

Ekspor ubi jalar seperti yang dikatakan oleh Ridwan Kamil, menjadi bukti ketahanan pangan tidak terhambat pandemi Covid-19. Bahkan Indonesia bisa mengekspor karena produksi dalam negeri meningkat pesat. Untuk terus mendorong ekspor, perlu adanya kerjasama dengan petani dan kelompok pembeli.

“Saat ini kami sedang mempersiapkan dan akan mengembangkan gudang resi 4.0, mengembangkan toko online agar pertanian menjadi modern dan serba digital,” jelas Ridwal Kamil.

Pria yang akrab disapa Kang Emil itu mengingatkan para petani jika berniat mengekspor jangan main-main. Ia menegaskan, produk pangan yang diekspor harus serapi mungkin, produk yang baik harus dipisahkan dan tidak menimbulkan masalah sampai di negara tujuan.

“Saya bangga Kabupaten Bandung bisa surplus bahkan ekspor. Ke depan saya minta Dinas Pertanian mencari pasar negara lain yang bisa dijadikan tujuan ekspor,” ujarnya.

“Kabupaten Titip Bandung fokus pada pertanian dan pariwisata. Covid mengajarkan kita bahwa pertanian itulah yang bertahan. Terakhir, saya dorong anak muda untuk mulai bekerja di bidang pertanian menjadi petani milenial, hidup di pedesaan, sejahtera di kota dan bisnis di seluruh dunia,” ujar Ridwan Kamil.

Petani di Kabupaten Bandung menurut Bupati Bandung Dadang Supriatna sangat mengenal budidaya ubi jalar yang sering disebut ubi Cilembu dimana hampir 8 kecamatan membudidayakan umbi cilembu. Hong Kong sebagai salah satu negara tujuan ekspor kali ini memiliki gaya hidup mengkonsumsi ubi jalar dan talas.

“Sumber konsumsi karbohidrat di luar negeri sudah bergeser ke ubi dan talas yang diolah menjadi berbagai lauk pauk dan tepung sehingga untuk ekspor tidak hanya dalam bentuk kayu bulat tapi akan kita siapkan dalam bentuk tepung, ”ujarnya.

Di tempat yang sama, Direktur Aneka Kacang dan Tabung Kementerian Pertanian Amirudin Pohan mengatakan, di tengah pandemi Covid 19, ekspor pertanian masih bisa tumbuh 14 persen. Strategi meningkatkan ekspor sesuai dengan kebijakan Menteri Pertanian Syahrul Yasin Limpo, pertama meningkatkan produksi sebesar 7 persen dan kedua menjaga kerugian di bawah 10 persen dan ketiga melalui Gerakan Tiga Ekspor atau Gratieks.

“Yang tidak kalah penting Kementerian Pertanian meminta bentuk badan usaha dari hulu ke hilir. Sesuai arahan Menteri Pertanian Syahrul Yasin Limpo, kami mulai menjalin kerja sama dengan mitra perbankan dengan KUR (Kredit Usaha Rakyat). Di hilir kami bekerjasama dengan swasta sebagai penjamin avalist saat petani membutuhkan modal,” jelas Amiruddin.

Harapan untuk petani Jabar khususnya Kabupaten Bandung agar bisa menggaet di hilir untuk ekspor. Dari tahun 2020 hingga Juli ekspor ubi jalar nasional diketahui sebesar 9.000 ton.

“Tahun ini saya yakin bisa melebihi tahun lalu. Namun perlu dikaji bentuk impornya dan apa yang harus kita lakukan di dalam negeri,” jelasnya.

Sebagai catatan, Provinsi Jawa Barat dari total ekspor ubi jalar nasional menyumbang sekitar 18 persen. Tahun ini ada 1.100 ha bantuan budidaya ubi jalar yang dialokasikan untuk Provinsi Jawa Barat. Produktivitas ubi jalar saat ini rata-rata 20 ton per ha, oleh karena itu Kementerian Pertanian mendorong peningkatan produktivitas dengan menggunakan varietas unggul.

Dirjen Tanaman Pangan Suwandi mengapresiasi langkah Kabupaten Bandung mengekspor ubi jalar. Karena ubi jalar memiliki pangsa pasar yang bagus untuk ekspor sehingga yang perlu dipersiapkan adalah kesinambungan produksi dan jaminan kualitas.

“Kalau berorientasi ekspor seperti kata Gubernur harus memikirkan kualitas yang baik. Selanjutnya bentuk korporasi, dengan manajemen yang baik, menjalin kerjasama dengan off-taker agar pemasaran lebih terjamin,” kata Suwandi.