Ini Kata Sri Mulyani, Ekonomi Kuartal III Memasuki Zona Pertumbuhan Nol Persen

Usaha Dagang, Keuangan – Sri Mulyani Indrawati, Menteri Keuangan mengingatkan bahwa pertumbuhan ekonomi saat ini mendekati no persen pada triwulan III 2020 setelah triwulan II mengalami kontraksi 5,32 persen dimana hal tersebut membutuhkan upaya sangat keras.

Untuk dapat memasuki zona no persen, kami sangat berhati-hati pada kuartal III, dan hal tersebut membutuhkan perjuangan yang luar biasa berat, ucap Sri Mulyani dalam konferensi pers APBN KiTa di Jakarta, Selasa (25/8/2020).

Menurut Sri Mulyani, hal tersebut dikarenakan beberapa kegiatan masyarakat serta ekonomi yang tidak mengalami ekselerasi yang cepat pada bulan Juli walaupun sudah terdapat pembalikan di beberapa sektor.

Jika kita melihat per sektor, kita lihat dari rekam kegiatan pembayaran pajaknya, ucapnya.

Ia juga menyebutkan untuk industri pengolahan masih mengalami kontraksi pada bulan Juli tetapi lebih baik jika dibandingkan dengan bulan Mei dan juni.

Bulan Mei yang paling dalam. Kami berharap tren tersebut akan terus membaik seiring dengan konsumsi listrik serta kegiatan di berbagai industri mulai meningkat, katanya.

Sementara itu, ia juga mengatakan untuk perdagangan walaupun sudah terjadi relaksasi, ternyata masih belum menunjukkan adanya pembaikan dari sisi penerimaan pajak.

Untuk bulan Juli kontraksinya bahkan lebih dalam dari bulan Juni walaupun keduanya lebih baik dari pada bulan Mei yang kontraksinya mencapai 40 persen, ucapnya.

Sri Mulyani juga menjelaskan bahwa kepulihan dari kegiatan perdagangan pada bulan Juli ternyata belum cukup stabil, kuat, dan bertahan seperti yang diharapkan oleh pemerintah.

Tadinya kami berharap bulan Juli lebih baik dari bulan Juni, ternyata tidak. Sehingga ini harus kita waspadai dari sisi perdagangan. Hal ini nantinya akan ada hubungannya dengan pengembalian konsumsi masyarakat, tegas Sri Mulyani.

Di lain sisi, untuk jasa keuangan masih konsisten membaik yaitu hanya mengalami kontraksi sekitar 6,89 persen, jika dibandingkan pada bulan Juni yang sampai 11 persen dan bahkan minum 30 persen pada bulan Mei.

Pada bagian konstruksi juga mengalami pembaikan tetapi pada bulan Juli ternyata tidak membaik secara konsisten jika dibandingkan dengan bulan Juni. Bahkan sebaliknya bulan Juli lebih dalam dari bulan Juni, ucapnya.

Pada sektor pertambangan masih konsisten kontratif dimana pertumbuhannya hampir mirip dengan bulan Juni, sementara transportasi dan pergudangan yang terjadi pada bulan Juni sudah mengalami pembaikan di level positif, tetapi pada bulan Juli kembali masuk kedalam zona negatif.

Peta ini menggambarkan bahwa pemulihan ekonomi Indonesia pada bulan Juli masih sangat rapuh serta bisa terjadi pembalikan kembali, ucap Sri Mulyani.

Oleh sebab itu, Menteri Keuangan berusaha untuk menjaga ekonomi Indonesia supaya tidak mengalami resisi serta mengupayakan selalu berada pada zona netral dan mengalami pemulihan.

Kita lihat apakah pada bulan Agustus tren tersebut masih tetap dapat bertahan di zona mendekati nol. Kita akan terus menjaga supaya pertumbuhan ekonomi Indonesia tidak terjadi resisi. Mungkin dalam hal ini kita masuh struggle supaya bisa recover pada zona netral, tegas Sri Mulyani.