Perang Dagang Berlanjut, Permintaan Batu Bara dan Sawit Diperkirakan Melonjak

Usaha Dagang, Bisnis – Core (Center of Reform on Economics) Indonesia memperkirakan berlanjutnya perang dagang di tahun 2020. Dimana hal ini akan mengakibatkan kontraksi ekspor yang terjadi di 2019 akan berlanjut di 2020.

Direktur Eksekutif Core Indonesia Mohammad Faisal mengatakan, walaupun begitu, eskalasi perang dagang tersebut akan berdampak terhadap kinerja ekspor sejumlah komoditas, yakni batu bara dan minyak sawit atau CPO.

Dia mengatakan bahwa untuk harga komoditas di luar minyak terutama sawit dan batu bara kita perkirakan akan ada sedikit mengalami peningkatan secara marginnya.

Bahkan dia juga menjelaskan bahwa, perang dagang yang mengalami kelanjutan akan semakin menekan kinerja keuangan korporasi di banyak negara, terutama China. Perang dagang juga akan memaksa banyak negara untuk melakukan penghematan, terutama Tiongkok akan mengarah untuk memilih bahan baku energi yang lebih murah, salah satunya batu bara.

Selain itu, peningkatan tarif impor minyak kedelai AS oleh Cina akan mendorong permintaan akan produk substitusinya, terutama minyak sawit. Hal tersebut dikarena tarif impor minyak keledai meningkat, sehingga beralih ke sawit.

Sementara untuk negara India, negosiasi bilateral yang dilakukan dengan negara Indonesia pada tahun ini telah menghasilkan kesepakatan terhadap penurunan tarif impor minyak sawit Indonesia dari 40 persen menjadi 37,5 persen, dan produk olahan sawit dari 50 persen menjadi 45 persen.

Kesepakatan ini memiliki potensi untuk mendorong ekspor minyak sawit Indonesia ke India, meskipun masih relatif marginal.

Dengan begitu, Core Indonesia melihat adanya potensi perbaikan kinerja ekspor Indonesia di tahun 2020. Tetapo masih sangat terbatas serta sangat bergantung pada perkembangan ekonomi global tahun depan yang masih penuh dengan ketidakpastian.