Tuduhan “Curang” AS-India atas Produk Ekspor RI

Usaha Dagang, Dunia – Pada periode Januari-Mei 2020 di tengah pandemi COVID-19, diketahui ada 9 negara telah memberikan tuduhan anti dumping dan safeguard atas sejumlah produk ekspor Indonesia. Dengan demikian apabila ditotalkan ada sekitar 16 tuduhan yang diberikan atas ekspor Indonesia.

Tuduhan atas produk-produk ekspor yang dimaksud dalam kasus dumping dan safeguard dibeberkan oleh Plt Direktur Jenderal Perdagangan Luar Negeri Srie Agustina yaitu berupa aluminium, kayu, sebagainya.

Srie berujar tercatat ada 16 inisiasi tuduhan baru anti dumping dan safeguard yang telah dilayangkan terhadap produk ekspor Indonesia di negara tujuan ekspor oleh negara mitra. Untuk produk yang termasuk dalam tuduhan tersebut pun bervariasi macamnya. Produk yang dimaksud diantaranya monosodium glutamat, baja, aluminium, kayu, benang tekstil, bahan kimia, matras kasur, dan yang terakhir produk otomotif.

Diantara produk-produk tersebut, menurut Direktur Pengamanan Perdagangan Kemendag Pradnyawati, produk yang paling sering dituduh dumping ataupun safeguard adalah produk dengan kelompok metal, besi dan juga baja.

Dan mengenai kelompok negara yang memberikan tuduhan dumping dan safeguard serta aktif melakukan investigasi diantaranya Amerika Serikat, India, Ukraina, Vietnam, Turki, negara-negara Uni Eropa, Filipina, Australia dan terakhir negara Mesir.

Karena adanya tuduhan yang diterima Indonesia tersebut membuat Pradnya sedikit terkejut. Karena dalam kurun waktu 5 bulan di tahun 2020, tuduhan tersebut menurut Pradya telah memecahkan rekor apabila dibandingkan dengan beberapa tahun sebelumnya.

“Ada 12 tuduhan yang dicapai di tahun 2002. Namun sekarang sudah mencapai 16 kasus tuduhan dalam waktu 5 bulan saja apalagi sedang dalam masa pandemi. Tuduhan tersebut meliputi 10 tuduhan anti dumping dan sisanya merupakan tuduhan safeguard dari negara yang menjadi mitra bisnis. Dengan demikian rekor tersebut telah melebihi rekor tahunan karena biasanya dalam setahun hanya menghadapi 14 tuduhan namun sekarang sudah 16 kasus hanya dalam kurun waktu 5 bulan,”ujar Pradnya.