Resesi Ekonomi Kini Mengintai Indonesia

Usaha Dagang, Keuangan – Saat ini semua negara sedang dilanda risiko terjadinya resesi ekonomi yang merupakan momok bagi setiap negara tersebut. Dan resiko itu akan semakin besar terjadi di tengah pandemi COVID-19.

Indonesia merupakan salah satu negara yang tidak luput bakal terjadinya resesi ekonomi. Seperti yang dibeberkan oleh Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati bahwa Indonesia berpotensi akan masuk ke jurang resesi ekonomi.

Kondisi tersebut bisa saja terjadi apabila daya beli masyarakat tetap lesu dalam masa pelonggaran pembatasan sosial berskala besar (PSBB).

Dalam proyeksi pemerintah dijelaskan Sri Mulyani bahwa selama masa pelonggaran PSBB diharapkan pemulihan ekonomi bisa saja terjadi. Di saat yang bersamaan dengan dukungan belanja yang meningkat serta biaya penanganan COVID-19 yang sudah mulai tersalurkan maka bisa mendongkrak pertumbuhan ekonomi di triwulan III dan IV sebesar 1,4%. Namun bisa saja terjadi resesi apabila di Triwulan II dan IV ternyata ekonomi Indonesia negatif.

Sri Mulyani juga menambahkan pada kuartal IV pemerintah berharap pertumbuhan ekonomi bisa mengalami pertumbuhan di level 3%. Hal tersebut sejalan dengan usaha pemerintah dalam memberikan berbagai insentif untuk dunia usaha termasuk diantaranya yaitu UMKM.

Pertumbuhan ekonomi Indonesia oleh Kementerian Keuangan (Kemenkeu) diproyeksikan pada kuartal II-2020 akan negatif sebesar 3,8%. Dan apabila dibandingkan dengan proyeksi sebelumnya yang juga negatif 3,1%, akan terasa semakin dalam.

Negatifnya pertumbuhan ekonomi di kuartal II-2020 menurut Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Suhariyanto bisa terlihat dari beberapa indikator, diantaranya yaitu menurunnya penjualan mobil dan motor dimana penurunannya masing-masing sebesar 93,21% dan 79,31%. Selain itu juga untuk sektor udara dimana jumlah penumpang angkutan transportasi di kuartal II-2020 mengalami penurunan sebesar 87,91%

Menurutnya, penyebab perekonomian Indonesia mengalami penurunan dikarenakan diberlakukannya kebijakan pembatasan sosial. Hal tersebut tidak hanya terjadi di Indonesia melainkan seluruh dunia dan diprediksi ekonomi global bakal negatif dengan kisaran 7%.

“Pada kuartal I kita beruntung karena ekonomi kita bisa bertahan di 2,97%. Namun tekanan justru terjadi di kuartal II karena kemungkinan negatif dan Badan Kebijakan Fiskal (BKF) bilang -3,8%,” pungkas Sri Mulyani.

Tahun ini pertumbuhan ekonomi Indonesia mengalami babak belur dikarenakan pandemi COVID-19 dan proyeksi pemerintah hanya bisa bertumbuh 1% bahkan bisa mencapai -0,4%.

Dalam rapat dengan Komisi XI di gedung DPR, proyeksi tersebut kembali dibahas dimana pembahasannya mengenai asumsi dasar dalam Kerangka Ekonomi Makro serta Pokok-Pokok Kebijakan Fiskal (KEM PPKF) RAPBN untuk tahun anggaran 2021, Senin (22/6/2020).

Kamrussamad yang merupakan anggota Komisi XI DPR RI Fraksi Partai Gerindra berharap agar pemerintah perlu mempersiapkan diri apabila ekonomi tahun ini mengalami minus. Sehingga target pemerintah untuk pertumbuhan ekonomi Indonesia bisa lebih realistis di tahun 2021. Selain itu ia pun menilai untuk asumsi dasar ekonomi makro KEM PPKF di tahun 2021 terlalu optimistis karena pemerintah percaya ekonomi bisa pulih dengan cepat atau dengan model V.

Dalam menerapkan skenario model W untuk kemungkinan terjadinya gelombang kedua pandemi serta model L untuk pemulihan ekonomi yang tidak terjadi secara cepat perlu ada pertimbangan. Dalam mengambil langkah antisipasi jangka panjang akan sangat bermanfaat dikarenakan untuk skenario jaring pengaman sosial kita hanya selama 3 bulan, 6 bulan serta setahun.

Mukhamad Misbakhun selaku anggota Komisi XI DPR RI dari Fraksi Partai Golkar menambahkan pertumbuhan ekonomi bisa saja ditargetkan oleh pemerintah namun agar target tersebut bisa tercapai perlu benar-benar dipersiapkan. Karena sampai saat ini belum ada jalan keluarnya sehingga membuat ekonomi Indonesia tertekan. Apalagi belum ditemukannya vaksin COVID-19 hingga saat ini, sehingga meskipun diberlakukannya new normal namun masih terbuka lebar terjadinya gelombang kedua.