Karena Adanya Protokol Kesehatan, Biaya Operasional Hotel Naik

Usaha Dagang, Bisnis – PHRI atau Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia menuturkan implementasi protokol untuk pencegahan penularan covid-19 di sektor perhotelan terhalang dengan biaya operasional.

Menurut Wakil Ketua Umum dari PHRI Maulana Yusran mengatakan bahwa kenaikan tersebut menjadi salah satu beban untuk pengelola dengan terlebihnya tutup dan sepi pengunjung dalam 3 bulan. Tambahan biaya tersebut berpengaruh kepada pengelola hotel karena mereka tidak bisa mengurangi biaya operasional salah satunya ialah listrik. Pasalnya PT PLN (Persero) tidak memberikan pelonggran biaya. Banyak juga perusahaan yang masih menutup sebagian hotelnya dari pada untuk menanggung beban biaya operasional.

Meskipun PSBB dilonggarkan, namun dengan begitu tidak menarik pelanggan untuk berkunjung ke hotel. Ia juga menyatakan bahwa pihak hotel kini memutar otak untuk menggaet pelanggan kembali dengan menawarkan voucher yang bisa dibeli sekarang untuk bisa dimanfaatkan dikemudian hari. Pemilik hotel juga terbebani oleh adanya biaya rapid tes karyawan, dimana setiap karyawan membutuhkan biaya kurang 900 ribu lebih dalam sebulan untuk melakukan rapid tes.

Besarnya biaya tersebut, tidak semuanya bisa di tanggung oleh hotel, sebanyak 50 persen pengusaha hotel hanya bisa bertahan selama 3 bulan saja akibat pandemi ini. Tidak hanya itu pengusaha hotel juga harus membayar reklame iklan meski hotel tutup, dengan biaya tersebut sulit bagi pengusaha melakukan adanya efisiensi biaya operasional.