Dolar AS Bisa Melambung ke Rp 15.500 Jika Terjadi Gelombang Kedua Corona

Usaha Dagang, Keuangan – Pembatasan sosial berskala besar (PSBB) saat ini sudah mulai dilonggarkan oleh pemerintah guna memulihkan ekonomi secara menyeluruh akibat pandemi COVID-19. Segala aktivitas sosial ekonomi seperti di kota Jakarta mulai berjalan kembali dengan harus mematuhi protokol kesehatan yang sudah ditetapkan sebelumnya.

Namun dengan dilonggarkannya PSBB ini justru memunculkan kekhawatiran baru yaitu munculnya gelombang kedua pandemi COVID-19. Apabila benar-benar terjadi, maka dolar AS bakal terkena dampaknya karena akan kembali melambung ke level Rp 15.500.

“Seperti yang terjadi di bulan Februari-Maret, kemungkinan besar dolar AS kembali ke level Rp 15.000. Dan kalau sampai tembus Rp 15.000, akan bisa kembali lagi ke Rp 15.500,” ujar Direktur PT TRFX Garuda Berjangka Ibrahim Assuaibi.

Hal lain yang mendorong pelemahan rupiah menurut Ibrahim selain adanya kekhawatiran terhadap gelombang kedua COVID-19 adalah karena terjadi ketegangan antara negara India dan Tiongkok serta adanya permasalahan di negara Amerika Serikat.

“Melemahnya nilai tukar rupiah karena munculnya ketegangan di India meskipun tanpa senjata, juga ketegangan yang terjadi di perbatasan Himalaya antara India dan Tiongkok. Selain itu memanasnya kembali situasi di Semenanjung Korea yaitu antara Korea Selatan dan Korea Utara sehingga membuat indeks dolar kembali menguat. Kemudian masalah stimulus di Amerika yang US$ 2,2 triliun dihentikan oleh Kongres atau Senat tapi kemudian diajukan kembali oleh pemerintah sana sebesar US$ 1 triliun,” imbuhnya.

Selain persoalan yang terjadi di luar negeri, ternyata di dalam negeri juga cukup berpengaruh. Di mana suku bunga yang diturunkan atas keputusan Bank Indonesia sebesar 25 basis poin namun tidak dibarengi penurunan kredit tentunya akan sangat berpengaruh terhadap rupiah.

Ariston Tjendra yang merupakan Kepala Riset Monex Investindo juga mengutarakan hal yang sama. Dimana adanya kekhawatiran akan munculnya gelombang kedua COVID-19 bisa saja membuat rupiah kembali mengalami pelemahan.

“Peluang rupiah kembali melemah terhadap dolar AS ke arah resisten Rp 14.200 dan tentunya dengan support di kisaran level Rp 14.050,’ ujar Ariston.

Apabila angka kasus COVID-19 semakin meningkat dan semakin tidak terkendali maka nilai tukar rupiah bisa saja bakal jatuh lebih parah dari pelemahan saat awal terjadinya kasus COVID-19.

“Rupiah bisa mengalami pelemahan lebih parah kalau saja terlihat semakin tidak terkendali, namun apabila dilihat saat ini masih terkendali dan penemuan vaksin serta obat perawatan COVID-19 masih diharapkan oleh pasar,” tutup Ariston.