Ekonom Optimis Krisis Tahun Ini Bisa Dilewati Industri Perbankan

Usaha Dagang, Keuangan – Di tengah pandemi virus Corona saat ini, kondisi industri perbankan menurut Center of Reform on Economics (Core) masih cenderung stabil. Apalagi dengan adanya kebijakan yang dikeluarkan oleh Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mengenai restrukturisasi kredit dimana kredit-kredit bermasalah atau non performing loan (NPL) dapat ditekan.

Econom Core Piter Abdullah berujar bahwa dengan adanya kebijakan otoritas tersebut akan membantu sektor perbankan didalam menghadapi berbagai tekanan terutama dengan kenaikan NPL akibat penyebaran virus Corona.

Dikeluarkannya kebijakan otoritas tentunya dengan perhitungan yang bersifat sangat hati-hati. Karena diyakini masa-masa kesulitan akibat penyebaran virus Corona di Indonesia bisa dilewati oleh industri perbankan.

Mengenai kebijakan otoritas itu sendiri telah diatur dalam Peraturan Otoritas Jasa Keuangan (POJK) Nomor 11/POJK.03/2020 yang membahas tentang Stimulus Perekonomian Nasional sebagai Kebijakan Countercyclical. Otoritas perbankan pasca Indonesia dilanda krisis moneter di tahun 1998 sebenarnya sudah melakukan reformasi besar terutama di sektor perbankan yang kemudian dilanjutkan oleh OJK.

Hal berbeda dikemukakan oleh Bhima Yudhistiran Adhinegara selaku Institute for Development of Economis and Finance (INDEF) dimana menurutnya masalah terbesar saat ini yang sedang dihadapi oleh industri perbankan adalah terkait penangguhan cicilan kredit karena ditemukan adanya ketidaksinkronan antara teknis di lapangan dengan pernyataan pemerintah.

Disamping itu perlu mewaspadai beberapa indikator industri perbankan diantaranya soal pertumbuhan kredit yang mengalami penurunan sangat cepat. Hal ini menandakan terjadinya pergeseran masyarakat dari yang gemar berbelanja lebih banyak memilih saving ke bank.

Kemudian dari sisi kredit investasi mengalami penurunan yang signifikan yaitu berada di level 10% diikuti kredit modal kerja berada di level 2,6% secara year to year (yoy). Padahal bila melihat data per februari 2019 untuk pertumbuhan kredit masih berada di kisaran 12% yoy dan untuk kredit investasi sebesar 13,4% serta terakhir untuk kredit konsumsi mengalami pertumbuhan sebesar 9,5%.

Dengan melihat adanya pelemahan indikator perbankan berdasar perbandingan data di tahun 2019, untuk kredit macet pastinya akan mengalami kenaikan sehingga membuat bank lebih selektif dalam memilih debitur.