Berkurangnya Cadangan Devisa Demi Menstabilkan Rupiah

Usaha Dagang, Keuangan – Posisi cadangan devisa negara berdasar data yang dikeluarkan oleh Bank Indonesia pada akhir Maret 2020 kemarin berada di angka US$121 miliar dan mengalami penurunan sebesar US$9,4 miliar bila dibandingkan dengan bulan sebelumnya yang mencapai US$130,4 miliar.

Penurunan cadangan devisa tersebut menurut Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo dikarenakan untuk pembayaran utang pemerintah yang telah mengalami jatuh tempo sebesar US$2 miliar dan untuk menstabilkan rupiah membutuhkan dana sekitar US$7 miliar. Apalagi pada minggu kedua dan ketiga di bulan Maret lalu telah terjadi kepanikan global sehingga mendorong para investor global melepas saham dan juga obligasi.

Kendati demikian, cadangan devisa untuk saat ini masih mencukupi terutama untuk pembayaran utang pemerintah, impor dan terakhir intervensi dalam menstabilkan nilai tukar rupiah terhadap dolar.

Disamping memiliki cadangan devisa, Bank Indonesia juga memiliki second line of defense in case yang merupakan bentuk kerjasama dengan berbagai bank sentral dan hanya digunakan pada saat benar-benar diperlukan. Contohnya seperti bilateral swap dengan bank sentral di negeri Tiongkok dengan nominal sebesar US$30 miliar, dengan negeri Sakura (Jepang)  sekitar  US$22,75 miliar, kemudian Singapura dan Korea Selatan dengan nominal masing-masing sebesar US$7 miliar dan US$10 miliar.

Dengan langkah-langkah yang telah diambil guna menstabilkan nilai tukar rupiah menurut Perry mulai membuahkan hasil. Hal tersebut tercermin dengan semakin menguatnya nilai tukar rupiah terhadap dolar dan berharap bisa berada di level Rp 15.000 per dolar AS menjelang akhir tahun 2020 karena melihat mekanisme pasar yang  belakangan ini mulai terus berjalan secara baik dan stabil.