Ketergantungan Akan Garam Impor Dalam Industri Indonesia

Usaha Dagang, Bisnis – Memasuki awal tahun 2020, Indonesia masih juga belum bisa lepas dari ketergantungan akan garam impor untuk keperluan industri. Hal ini dikemukakan oleh Menteri Perindustrian (Menperin) Agus Gumiwang Kartasasmita.

Karena apabila diberlakukan pemberhentian sementara mengenai impor akan kebutuhan garam tentunya akan berimbas langsung pada keberlangsungan industri. Hal ini bisa terjadi dikarenakan segala kebutuhan akan bahan baku industri bergantung dari situ. Beliau pun berujar hal tersebut tidak hanya berlaku terhadap industri garam melainkan juga untuk industri gula.

Di tanah air memang banyak garam yang dihasilkan oleh petani garam namun impor garam tetap dibuka dikarenakan kebutuhan garam untuk industri masih belum tercukupi. Hal ini dikarenakan kandungan Natrium Chloride (NaCL) garam lokal masih rendah sehingga tidak bisa digunakan langsung oleh industri yang membutuhkan garam dengan kadar NaCL yang lebih tinggi. Garam lokal hanya memiliki kadar NaCL 88% sedangkan prosedur kandungan NaCL dalam suatu industri setidaknya membutuhkan kadar NaCL kurang lebih 97%.

Hal tersebut apabila dibiarkan terus menerus maka akan berdampak dengan munculnya permasalahan tidak hanya di kalangan industri melainkan juga akan muncul dampak sosial yaitu pada  petani garam itu sendiri.

Namun secara perlahan Indonesia berupaya mengurangi ketergantungan akan garam impor untuk keperluan industri. Jadi garam rakyat dengan kadar NaCL yang lebih rendah yang awalnya dikelola oleh petani garam bisa dibeli oleh PT Garam dan dengan desain mesin dari BPPT (Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi), kadar garam yang rendah tersebut bisa ditingkatkan.

Diharapkan dengan upaya tersebut bisa meningkatkan nilai jual garam lokal sehingga membuat kehidupan para petani garam lebih sejahtera dan terjamin tentunya.