Permasalahan Rendahnya Inflasi Indonesia

Usaha Dagang, Jakarta – Selama kepemimpinan Presiden Joko Widodo (Jokowi) mencatat inflasi di bawah kendali. Namun, prestasi ini tidak bisa menjadi patokan untuk sukses dalam memimpin pemerintah Indonesia lima tahun terakhir.

pengamat ekonomi dari ekonomi Aksi Indonesia (EconAct) Ronny P Sasmita menjelaskan, ada beberapa hal yang harus diselesaikan pemerintah baru membalikkan inflasi yang rendah

“Coba kalau kita memasangkannya dengan penurunan tren data dalam konsumsi rumah tangga dan kapasitas ekspor non-minyak yang terus melemah, dan komoditas impor data yang meningkat. Apalagi jika kita kaitkan dengan apa yang terjadi di Amerika, Eropa, Jepang, dan lain-lain,” kata Ronny untuk UsahaDagang, Minggu (13/10).

Dia menambahkan bahwa negara-negara besar yang terkena stagnasi sejak krisis tahun 2008, memperkirakan inflasi meningkat. Bahkan di Amerika dna Eropa, inflasi mecatatkan di atas dua persen ke dalamnya, upaya yang sangat berat.

Di tengah inflasi yang rendah, menurut Ronny, melemahnya sektor konsumsi rumah tangga, melemahnya ekspor non-minyak dan peningkatan impor, dapat berarti bahwa telah terjadi penurunan daya beli.

“Saya yakin, sejak dua tahun lalu pemerintah memahami kondisi ini. Hal ini dapat dilihat dari jumlah kali pemerintah untuk meningkatkan alokasi dana sosial dan subsidi energi, untuk menahan lanjut melemahnya konsumsi rumah tangga,” katanya.

“Ini hanya sebuah narasi yang dibangun ketika ancaman itu tidak melemahkan daya beli, lagi dalam konteks umum alasan itu tekanan ekonomi akibat melambatnya pertumbuhan global,” kata pria yang juga tim ahli ekonomi dan Komite Ekonomi Industri Nasional (KEIN) itu.

Dipunggiri dan tidak bisa, ia menegaskan, pencapaian rendah dari pertumbuhan ekonomi Indonesia yang disebabkan oleh perlambatan konsumsi rumah tangga dan penurunan kontribusinya terhadap PDB nasional, selain kinerja yang kurang maksimal ekspor investasi dan non-minyak.