Pengaruh Cukai Naik, Rokok Ilegal Diperkirakan Semakin Banyak

Usaha Dagang, Binis – Lonjakan cukai pada bulan Januari 2020 dinilai mendorong peredaran rokok ilegal. Perhatian ini untuk kepala Asosiasi masyarakat Indonesia Snuff (IMTA) Budidoyo dinyatakan.

“Apa yang mengkhawatirkan kami proliferasi rokok ilegal mereka (perokok) itu dicari. Karena itu jelas lebih murah, tanpa kan khusus kan mereka. Indonesia juga,” ucap Budidoyo, Jumat (25/10)

Menurut Budidoyo, pola perokok membeli rokok sangat fleksibel. Yaitu jika yang normal dibeli dan dikonsumsi oleh peningkatan harga, perokok akan menemukan pengganti yang memiliki harga yang lebih murah seperti rasa. Dia khawatir bahwa perokok membeli rokok ilegal karena jauh lebih murah.

“Nama kan non-elastis Ya. (Perokok), yang biasanya membeli sehingga jika harga tersebut dipanggil, kemudian menemukan varian rokok murah yang rasanya hampir sama,” kata Budidoyo.

“Ini akan tetap demikian sampai kita akhirnya benar-benar khawatir bahwa secara ilegal membeli rokok,” kata Budidoyo.

Peraturan (PMK) Nomor 152 tahun 2019 di menteri keuangan tembakau pajak khusus yang baru saja dirilis, cukai rokok akan meningkat dengan rata-rata 21,56% dari Januari 2020. tarif meningkat pada merokok yang ada di jenis rokok sigaret putih mesin (SPM) yang sama dengan 29,96%.

Untuk jenis pajak rokok kretek bag filter (SKTF) bau rokok meningkat 25,42%, rokok kretek mesin (SKM) 23,49%, dan rokok kretek tangan (SKT) 12,84%.

Kenaikan harga eceran (RRP) rokok rata-rata 35%. Artinya, diharapkan harga per pak rokok naik sekitar 35% -a.