Taktik Kementan Memerangi Pemalsuan Pestisida

Usaha Dagang, Jakarta – Sekitar 900 miliar rupiah dihabiskan oleh petani bawang di Kabupaten Brebes setiap tahun untuk membeli pestisida. Hal ini dikemukakan oleh Kepala Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Kabupaten Brebes, Yulia Hendrawati.

Daerah yang merupakan pusat bawang terbesar di Indonesia ini memiliki lebih dari 30.000 ha lahan produktif dan merupakan pemasok utama
kebutuhan akan bawang merah, khususnya di Jawa.

Selain bawang merah, pulau Jawa memiliki banyak pusat komoditas pertanian yang tentunya merupakan ladang bisnis yang menguntungkan bagi para pengusaha.

Tidak mengherankan, ini memprovokasi sindikat produk pestisida palsu untuk mencari untung dengan merugikan pelaku usaha dan terutama peran petani, target produk yang ditargetkan untuk pemalsuan biasanya produk premium yang memiliki harga tinggi dan dijual di pasar (bergerak cepat) ).

“Pada Mei 2019 terdapat 4.646 formulasi pestisida yang terdaftar di Kementerian Pertanian dan 1.700 formulasi ditarik karena lisensi mereka telah dicabut karena ilegal dan kedaluwarsa,” kata Direktur Infrastruktur dan Fasilitas Pestisida dan Pestisida dan Fasilitas Kementerian Pertanian Muhrizal Sarwani .

Dia juga menambahkan bahwa Departemen Pertanian dan Kepolisian Nasional sudah berkoordinasi dengan membentuk satuan tugas makanan (Satgas) yang memiliki prioritas pengawasan pada makanan, input produksi dan pestisida.

Pada bulan Februari, Kantor Pertanian Distrik Brebes bekerja sama dengan Polisi Nasional dan kantor kejaksaan setempat untuk mengekspos sindikat distribusi pestisida palsu dan menyeret para pelaku ke pengadilan dan akhirnya dihukum 10 bulan penjara.

Peristiwa ini menjadi prestasi karena ini adalah pertama kalinya kasus pestisida palsu mendapat perhatian dan diadili.

Pemalsuan produk ini tentu saja merugikan produsen, Mayang Sari Marchainy, anggota komite CropLife Indonesia dari Pt Corteva Indonesia, mengatakan secara global disebutkan bahwa agen pemalsuan pestisida di seluruh dunia dapat memperoleh manfaat setidaknya US $ 6,5 miliar.

Selain kepastian merugikan petani karena memiliki dampak langsung pada hasil produksi, juga membahayakan lingkungan, terutama jika produk mengandung bahan berbahaya yang harus dilarang distribusi.

Jadi sinergi lintas sektor ini sangat diperlukan untuk membangun koordinasi dan kolaborasi yang disepakati oleh semua pemangku kepentingan sehingga mereka saling berhubungan, ini penting dalam upaya menangani kasus pemalsuan produk pestisida.

“Butuh perjalanan panjang dan biaya yang sangat besar untuk menemukan pestisida yang efektif. Banyak tes dilakukan, mulai dari biologi, kimia dan morfologi. Industri pestisida adalah industri yang sangat besar dan mahal,” kata Mayang.