Beras Sampai BaBi Menjadi Produk Unggulan RI dari Perbatasan

Usaha Dagang, Jakarta – Beberapa wilayah perbatasan Indonesia memiliki komoditas unggulan untuk diekspor ke negara tetangga. Salah satunya Jahe yang berada di Kalimantan Utara yang bisa diekspor ke Malaysia damn juga babi di Nusa Tenggara Timur (NTT) dan Papua yang bisa diekspor ke Timor Leste dan Papua Nugini.

Selain berada di wilayan tersebut, Kalimantan Barat dan Kepulauan Riau (Kepro) juga memiliki komoditas unggulan untuk diekspor. Sehingga, terdapat lima wilayah perbatasan yang sedang menjadi fokus pemerintah untuk melakukan ekspor ke negara tetangga.

“Di perbatasan kita fokus kepada lima lokasi termasuk dengan Timor Leste, kemudian Merauke ke Papua Nugini, kemudian Kalimantan dengan Malaysia, Kepri dengan Singapura, kita fokus disana. Pastinya yang akan kita kembangkan yaitu komoditas-komoditas yang pertama yaitu untuk memenuhi kebutuhan pangan masyarakat di perbatasan tersebut dan kedua komoditas yang memiliki pasar di Internasional,” ucap Kepala Badang Ketahanan Pangan (BKP) Kementerian Pertanian (Kementan) Agung Hendriadi ketika sedang diskusi pembagunan ekonomi dan ketahanan pangan di wilayah perbatasan Indonesia, di Jakarta, Selasa (16/07).

Secara rinci, Kalimantan Barat memiliki komoditas unggulan untuk diekspor seperti cabai, buncis, tomat, terung, kacang panjang, ketimun dan komoditas khasnya beras raja uncak. Kemudian, Kalimantan Utara dengan komoidtas seperti durian, Jahe merah, sereh dapur dan komoditas khasnya beras adan. Keduanya wilayah tersebut memiliki potensi untuk melakukan ekspor ke Malaysia dan juga Brunie Darussalam.

Selanjutnya, Kepulauan Riau yang berpotensi mengekspor nanas, kelapa, cengkeh dan sayuran segar ke Singapura. NTT mempunyai potensi untuk melakukan ekspor bawang merah, daging sapi dan babi ke Timor Leste. Terakhir, Pap;u yang mempunyai komoditas unggulan untuk diekspor seperti, ubi jalar, kopi, kako, buah merah dan babi ke Papua Nugini.

Agung menyampaikan, wilayah perbatasan tersebut bisa mengekspor komoditas yang memang produksinya surplus. Tapi, kelima wilayah tersebut masih belum dapat memenuhi kebutuhan pangannya dengan keseluruhan.

“Yang pastinya sudah ada yang ekspor ke Timor Leste, ke Papua Nugini, artinya jika dia sudah ekspor dia sudah dapat memenuhi kebutuhan pangannya sendiri. Bukan pangan secara keseluruhan, namun dia sudah surplus produksinya. Jadi dia menjual keluar. Kita sekarang mencoba untuk melihat supaya mereka dapat memproduksi lebih beragam lagi, jadi bisa memenuhi semua kebutuhan,” ucap Agung.

Selain lima wilayan yang merupakan perbatasan darat Indonesia dengan negara tetangga, Indonesia juga mempunyai wilayah perbatasan laut yang memiliki potensi untuk melakukan ekspor ke 6 negara lain seperti Vietnam, Thailand, India, Australia, Filipina dan Pulau.

“Kita sebenarnya mempunyai batas darat dengan tiga negara yaitu Malaysia (kalimantan) dengan Timor Leste (NTT) dan antara Papua dengan Papua Nugini. Namun jika batas laut kita mencakup ke 8 negara, di antaranya Vietnam, India, Filipina, Singapura, Malaysia, Thailand, Pulau dan Australia,” ucap anggota Kelompok Ahli Badan Nasional Pengelola Perbatasan (BNPP) Sinis Munandar.

Tapi, Agung menegaskan, sekarang ini pemerintah akan fokus ke 4 negara tersebut yaitu Malaysia, Singapura, Timor Leste dan Papua Nugini.

“Sementara untuk pasarnya dia dulu. Maka untuk program menjadikan lumbung pangan untuk ekspor itu ke depan,” ucap Agung.