Akibat Perbuatan Milenial di Balik Menjamurnya Usaha Kuliner Vegetarian

Usaha Dagang , Bisnis– Usaha Kuliner vegetarian terus berkembang. Namun tidak heran, makanan vegetarian tersebut bukan barang ‘langka’. Buat memperolehnya juga bisa beragam cara, termasuk dengan kegunaan media sosial.

Pelaku bisnis ketering vegan online, Novita Natalia Kusumawardani menerangkan, dulu mencari makanan terhitung sangat sulit sekali. Kalaupun ada, harganya juga tidak terjangkau.

Dia berkata, belakangan vegetarian hingga vegan mulai menjadi bagian dari gaya hidup atau bisa di bilang kebutuhan. Sehingga, juga menjadi peluang membuat bisnis.

“The Economist pernah berkata tahun 2019 itu adalah tahun vegan dan di Amerika sendiri perkembangan restoran vegan mencoba gaya hidup semakin banyak. Melihat peluang itu sih makin banyak yang ingin dan pengalaman sendiri, makan vegan mahal-mahal dan susah mencarinya, akhirnya April membuat plantful.id,” ucapnya, Selasa (23/07).

Sementara, si pemilik Siti Fang Fang Vegetarian, Alexander Raymon berkata, vegetarian dan vegan dulu identik dengan pemeluk agama atau penganut aliran kepercayaan tertentu. Sekarang ini, pandangan tersebut mulai bergeser dan mulai tidak berlaku lagi.

“Jika dulu identik dengan pemeluk agama tertentu yaitu Buddha, Taoisme dan etnis tertentu saja. Namun makin ke sini semakin bergeser, stigma atau stereotype tidak berlaku,” ucapnya.

“Jika mas ke Bali Makin banyak restoran vegetarian menjamur dan waktu ke sana ngobrol kepada pelaku usaha hapir setiap hari melayani orang bule turis-turis Australia, Tiongkok, India dan lainnya. waktu saya diskusi karena bukannya para turis pemeluk agam tertentu, bukan, tapi ke arah gaya hidup lebih sehat,” terangnya.

Sementara, Pengamat Bisnis Yuswohady memiliki pandangan berkembangnya gaya hidup vegan dan vegetarian tidak lepas dari kaum milenial dan berkembagnya media sosial. Dia berkata, milenial dikenal dengan kaum yang narsis dan menunjukkan eksistensi diri. Sementara, media sosial menjadi suatu alah atau fasilitas untuk memperlihatkan eksistensi.

“Milenial itu generasi yang narsis, kenapa narsis, karena alat-alat tools buat menunjukkan diri demikian terbuka luas dan gratis melalui media sosial seperti Instragram, Facebook, Twitter. Dan itu TV sama TV Ashiap Atta Halilintar itu tidak berbeda. Atta bisa mengumpuli jutaan orang, TV juga jutaan orang,” pungkasnya.

Buat menunjukkan eksistensi, kaum milenial berlomba menunjukkan keunikan atau pembeda dengan yang lain. Salah satunya engan menjaid vegan ataupun vegetarian. Sehingga, kata dia, vegetarian atau vegan tidak hanya tujuan buat sehat saja. Namun, juga memiliki funsi sosial.

“So, sebenarnya gaya hidup sehat, gaya hidup vegetarian, yang kembali ke alam juga sebuah coolnes, cool factor. Jika dilihat orang lain aku ini peduli kesehatan, aku ini peduli terhadap lingkungan, aku peduli makanan yang sehat vegetarian buat dia sesuatu baget, dilihat temannya ada gengsinya. Kemudian orang-orang pun berlomba-lomba untuk mencari diferensiasi, nilai diri,” ucapnya.

“Salah satunya jika dulu orang vegetarian tidak ditampilkan, karena tujuannya buat sehat. Namun sekarang not only buat sehat, tapi ada funsi sosial, maksud sosialnya buat dilihat orang lain aku ini memiliki life style sehat, vegetarian, itu gengsi sosial baru buat mendapatkan audience,” sambungnya.