Jahe Jadi Unggulan Pertanian Jabar Segera Diekspor Sebanyak Dua Kontainer

Usaha Dagang, Kabupaten Bandung – Balai Karantina Kementerian Pertanian mengirimkan dua kontainer produk pertanian di Jawa Barat untuk bisa segera di ekspor ke sejumlah negara di Asia. Jahe mempunyai potensi tinggi.

Dalam megirimkan dua kontainer produk pertanian Jawa Barat ini berlangsung di Halaman PT Kaldu Sari Nabati Indonesia, Jalan Raya Garut-Bandung, Jawa Barat.

Pengiriman langsung dipimpim oleh Kepala Badan Karantina Kementerian Pertanian Ali Jamil. Produk pertanian yang akan diekspor kali ini, di antaranya buah salak diekspor ke China, jahe diekspor ke Bangladesh, kopi diekspor ke Korea Selatan dan prodak makanan ringan yang diekspor ke Philipina.

“Alhamdulillah, hari ini kami akan melepas beberapa komoditas pertandian yang dari Jawa Barat,” ucap Kepala badan Karantina Pertanian Kementerian Pertanian Ali Jamil.

Pada ekspor kali ini, pihaknya menyoroti komoditas tanaman obat jahe yang mempunyai potensi yang lebih besar di pasar internasional. Jahe yang diekspor kali ini berasal pada sejumlah wilayah di Jawa Barat di antaranya, Bandudng, Garut, Ciamis, Tasikmalaya, Cianjur serta Sumedang.

“Jahe mempunyai potensi lebih besar, hari ini sebanyak 54 ton akan segera diekspor ke Bangladesh,” ucapnya.

Dalam meningkatkan, ekspor komoditas pertanian di Jawa Barat pihaknya mempunyai empat strategi peningkatan ekspor.

“Pertama, peningkatan ekspotir yang sebelumnya hanya 100 meningkat menjadi 200 persen. Kedua, dispersifikasi produk yang dimana penjualan jahe bisa dengan bentuk bumbu,” ucapnya.

“Ketiga, frekwensi dalam mengirim dan keempat buka pasar baru. Jika sekarang bisa ekspor ke Bangladesh, besok pastinya bisa kirimkan ke Thailand, Francis sampai belanda,” sambungnya.

Pihaknya mengatakan, pada masa kepemimpinan Presiden Joko Widodo dan Yusuf Kalla, ekspor komoditas pertanian meningkat cukup signifikan.

“Dengan peningkatan komoditas ekspor kita lebih dari 10 ton. Nilainya lebih dari 400 triliun, itu data kita dan itu juga nilai yang sangat besar dari komoditas pertanian. Mari kita dorong dengan bersamaan,” katanya.

Pihaknya mengingatkan, margin keuntungan melalui eksportir dibagi kepada para petani. Dimana, harga beli untuk petani harus naik dan jangan di turunkan.

“Kita bercita-cita menjadikan Indonesia sebagai lumbung pangan dunia Tahun 2045. Semua barang dari petani, petani sejahtera dan masyarakat juga semakin sejahtera,” ucapnya.

Sekretaris Dina Pertanian Jawa Barat UUng Gumilar menyampaikan, pihaknya mendiring para petani untuk meningkatkan produksi jahe, karena begitu menguntungkan sekali.

“Untuk jahe, akan kita dorong terus untuk dikembangkan. Harapannya ke depan, produksinya lebih baik untuk memenuhi pasaran yang diluar negeri. Jahe kita sudah terbukti kualitasnya, tinggal meningkatkan teknologi di petani kita, jenisnya ada jahe gajah, jahe merit dan jahe merah,” ucapnya.

Sementara itu, salah satu eksporti Tariq Muhammad menyampaikan, setiap bulan pihaknya bisa melakukan ekspor empat kali jahe ke Bangladesh.

“Sebanyak empat kali dalam satu bulan. Kita kumpulkan 4-10 kontainer, itu masih kurang, tahun ini agar kurang. Dalam satu bulan dapat mencapai 150-250 ton, namun jika bersama-sama dengan eksportir lainnya dapat mencapai 2.000 ton,” tandasnya.