Bandung Barat Bersiap untuk Mengembangkan Tanaman Obat Skala Nasional

Usaha Dagang, Badung BaratBandung Barat merupakan salah satu daerah yang potensial untuk mengembangkan hortikultura khususnya sayuran. Kabupaten ini kaya dengan bahan baku bawang merah, cabai, tomat, buncis, kacang panjang. Tanaman obat juga berpotensi besar, hanya saja membutuhkan perhatian spesial.

“Kegunaan lahan yang kami miliki untuk melakukan budidaya tanaman obat berada di lima kecamatan seperti Cipongkoh 20 hektare, Gunung Haru 100 hektare, Sindang Jerta 100 hektare, Cililin 200 hektare dan Rongga Jerta 60 hektare,” ucap Kepala Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Bandung Barat Ida Nurhamida, Sabtu (22/06).

Ida mengatakan, lokasi tersebut sangat potensial dalam menanam jahe, kunyit dan kapulaga. Petani begitu antusias mengembangkan karena kondisi unsur tanah yang sangat mendukung sekali.

“Kami begitu mendukung dalam pengembangan tanaman obat. Jika tahun depan akan dijadikan prioritas utama nasional, Kabupaten Bandung Barat sudah siap untuk menjadi salah satu sentra dalam mengembangkan tanaman Obat,” Sambungnya.

Yono, ketua kelompok tani Harapan Desa Batulayang, Kecamatan Cilincing mengatakan bahwa sekarang ini sebagian petani menanam jahe emprit, jahe gajah, kunyit dan kapulaga.

“Akan tetapi hanya spot spot saja, karena kami terkendala dengan modal. Di sini 1 kg jahe dapat menghasilakn 30 kg, 1 kg kunyit bisa menghasilkan 35 kg, sedangkan untuk kapulaga 1 rumpun bisa menghasilkan 300 – 500 gram,” kata Yono.

Kasubdit Tanaman Obat, Wiwi Sutiwi, megatakan begitu senasn sekali melihat potensi pengembangan tanaman obat pada lokasi ini. Dirinya sangat yakin sekali daerah ini begitu cocok sekali menjadi lokasi pengembangan dengan skala yang besar.

“Kita akan memperluas area pengembangan tanaman obat, ke depoan akan menjadi proritas nasional. Di samping itu kahsiat dari tanaman obat tidak kalah dengan obat kimia bahkan tidak memiliki efek samping sama sekali,” tambah Wiwi.

Sementara itu, Direktur Sayuran dan Tanaman Obat, MOh Ismail Wahab berkata bahwa dalam mengembangkan tanaman obat di tahun 2020 akan diarahkan di pengembangan areal tanam baru.

“Hasil produksi nanti akan kami link-kan dengan industri jamu yang sudah berjalan, seperti Sido Muncul, Gujati, Air Mancur yang masih banyak lagi lainnya. Apabila wilayah tersebut memiliki potensi yang cukup bagus maka tidak menutup kemungkinan bahwa ke depannya kami akan alokasikan APBN dalam mengembangkan kawasan tanaman obat pada wilayah tersebut,” kata Ismail.