Apakah RI Benar Tekena Dampak Pertang Dagang AS vs China?

Usaha Dagang, Dunia – Lembaga riset ASEAN+3 Macroeconomic Reserach Office (AMRO) mengatakan Indonesia merupakan salah satu negara yang tidak terlalu terkena dampak negatif oleh perang dagang antara Amerika Serikat dengan China.

Menurut pendangan Chief Economist AMRO Hoe Ee Khor hal tersebut terjadi karena tidak banyak proyek manufaktur yang akan pindah ke China dan Indonesia tidak masuk ke dalam mata rantai produksi untuk melakukan ekspor kedua negara tersebut.

“Forecast kita untuk Indonesia (pertumbuhan ekonomi) belum ada perubahan, masih 5,1%, karena saya merasa Indonesia tidak terlalu tekena dampak dari perang dagang seperti negara lainnya,” ucap Hoe pada media briefing di gedung BI, Jakarta, Selasa (18/06).

Hoe berkata, Indonesia bisa memperoleh manfaat positif dari ketegangan tersebut asalkan bisa menarik investasi manufaktir asal China. Seperti Vietnam, Malaysia dan Thailand. “Di Indonesia ada juga memiliki potensi untuk mendapatkan perpindahan manufaktur namun memang dalam jangka panjang,” ucap dia.

Dia menyampaikan memang dalam prediksi terburuk, AMRO mengatakan eskalasi ketegangan perdagangan antara AS dan China dapat menurunkan ekonomi kawasan hingga 40%. Bahkan ia juga memprediksi dalam jangka pendek pertumbuhan ekonomi yang terletak di kawasan bisa turun hingga 100 bps.

“AS dan Tiongkok akan bersama – sama dirugikan, terlebih jika tambahan kebijakan non-tarif juga turut diterapkan. Dampak absolut perang dagang dengan AS selama 2019-2020 relatif lebih rendah (-30 bps), jika dibandingkan degan Tiongkok (-60 bps),” ucap dia.

Dia menyampaikan, dampak relatif terhadap AS akan jauh lebih besar lagi (13% terhadap pertumbuhan yang rata-rata 2019 – 2020) dibandingkan dengan Tiongkok (di bawah 10%). Otoritas yang berada di kawasan harus terus waspada mengingat risiko menjadi nyata. Beberapa negara kawasan sudah menerapkan langkah – langkah kebijakan yang bersifat pre-emptive atau frontloaded yang sudah membantu meredakan kekhawatiran pasar.

Pada beberapa negara, kebijaskan moneter sudah diperketat untuk menjaga stabilitas eksternal dan inflasi domestik, dan membendung akumulasi risiko yang mengancam stabilitas keuangan akibat dari periode suku bunga rendah yang sudah berkepanjangan.

Jalan lainnya, seperti penangguhan proyek infrastruktur yang memerlukan banyak sekali bahan baku impor, juga sudah dilakukan untuk mengurangi tekanan pada saat melakukan transaksi berjalan. Pada sisi fiskal, anggaran pemerintah yang sehat mendukung kebijakan fiskal dalam memainakn peran countercyclical meski harus terbatas tapi sangat penting.

Terdapat beberapa negara kawasan juga sudah mengadopsi kebijakan yang cenderung ekspansif atau memprioritaskan ulang pengeluaran jika terhadap keterbatasan fiskal. Sesudah periode pertumbuhan yang tinggi, didukung dengan kondisi keuangan global yang longgar, beberapa ekonomi kawasan sekarang ini mengalami perlambatan siklus kredit dan beberapa sudah melonggarkan kebijakan makroprudensial untuk mendorong penyaluran kredit.