Bank Indonesia, Enggak ada Rush Money Akibat Aksi 22 Mei

Usaha Dagang, Keuangan – Setelah terjadinya aksi 22 Mei beberapa waktu yang lalu sangat dikhawatirkan sekali akan memicu kekhawatiran dan terjadinya rush money atau penarikan uang secara besar-besaran dalam sistem perbankan nasional.

Merespon kejadian tersebut Gubernur Bank Indonesia (BI) Perry Warjiyo mengatakan bank sentral tidak ada melihat ada kegiatan transaksi yang tidak normal pada layanan perbankan. “Justru kemarin saya sampaikan, transaksi perbankan dari kliring ritel atau sistem kliring nasional atau bisa disebut dengan realtime gross settlement (RTGS) malah semakin naik volume maupun nilainya,” ucap Perry di Gedudng BI, Jakarta, Jumat (24/05).

Ia mengatakan, transaksi perbankan berjalan dengan normal dan lancar saja. Pendapat dia kalaupun ada pengambilan uang dari Bank Indonesia hal tersebut merupakan kegiatan kebutuhan uang tunai lebaran. “Kemarin memang ada sebanyak 13 bank yang melakukan penarikan uang tunai di BI, hal tersebut untuk kebutuhan lebaran. Untuk kebutuhan THR, sekali lagi kami ucapkan,” katanya.

Perry mengatakan kebutuhan uang tunai ketika lebaran mencapai Rp 217 tiriliun dan sekarang ini BI mempunyai stok Rp 300 triliun untuk pusat dan juga daerah. “Kita masih ada stock untuk memenuhi semua kebutuhan,” pungkas dia.

Dia mengatakan bank sentral bersama perbankan terus bersinergi dalam memenuhi kebutuhan uang tunai seluruh masyarakat.

“Data di akhir minggu kemarin sudah ada sekitar Rp 58 triliun, namun kemungkinan akan masih naik lagi di minggu-minggu ini maupun berikutnya. Kemungkinan masih akan menunggu pembayaran THR dan pembayaran lainnya,” ucap dia.

Sebelumnya Perry sudah mengatkaan pada 22 Mei kondisi perbankan tetap berjalan dengan normal. Meskipun terdapat beberapa kantor cabang bank yang harus tutup dikarenakan lokasi tersebut terjadi kerusuhan.

“Kondisi dari perbankan berjalan dengan nomral dari kemarin, apalagi hari ini ya. Memang pada lokasi terjadinya kerusuhan tidak ada bank yang tutup, kantor lain juga, namun kegiatan berjalan dengan normal,” ucapnya ketika konferensi Pers KSSK, Kementerian Keuangan.

Aktivitas dari perbankan juga terlihat dari proses transfer yang dilalui perbankan. Tercatat transfer melalui kliring kemarin terjadi sebanyak 669 ribu kali dengan nominal sebesar Rp 14 triliun.

“Ini sangat tinggi dari rata-rata harian yang ada dari pada volume 516 ribu,” sambungnya.

Selain itu dalam melakukan transfer sistem BI RTGS (Real Time Gross Settlement) juga begitu tinggi. Sistem transfer dengan nominal yang besar itu terjadi pada 22 Mei yang mencapai Rp 577 triliun.

“Angka tersebut lebih tinggi rata-rata hariannya. Jadi ketika penyelenggaraan transaksi ekonomi melalui kliring itu berjalan seperti biasanya,” akhirnya.